Oleh Ahmad Kholili Hasib, Cendikiawan Muslim
Sayidina Abubakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu — Khalifah Pertama — dalam pidato pertamanya saat diresmikan menjadi Khalifah, dia tak menyatakan rasa syukur dan apalagi terlihat gembira. Berikut ini petikannya sebagian pidatonya:
“Saudara-saudara, saya telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena saya yang terbaik di antara kalian. Untuk itu, jika saya berbuat baik bantulah saya dan jika saya berbuat salah luruskanlah”.
Kemudian, “Patuhlah kalian kepada saya selama saya mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika saya durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhi saya. Kini, marilah kita menunaikan shalat, semoga Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita.”
Lalu ketika sayidina Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu dilantik menjadi khalifah. Saat itu dia justru menangis. Orang-orang-pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis dengan jabatan ini?”
“Saya ini tegas, banyak orang yang takut pada saya. Kalau saya nanti salah, lalu siapa yang berani mengingatkan,” tanya Umar radhiallahu ‘anhu.
Lalu, seorang Arab Badui dengan pedang terhunus berkata; “Saya yang akan mengingatkan Anda dengan pedang ini.”
“Alhamdulillah,” jawab Umar radhiallahu ‘anhu. Lihatlah sikap kedua Khalifah di atas. Abu Bakar tidak sombong dan arogan saat dipilih. Ia mengatakan “Jika saya berbuat salah luruskanlah”.
Abu Bakar siap menerima masukan. Membuka pintu untuk nasihat. Tidak tutup telinga dan tidak salah keluarkan kata-kata. Beliau bertutur lembut, sopan tapi tegas. Tidak bicara kasar, emosional dan apalagi tidak pernah mencontohkan bicara kotor. Ia sepenuhnya sadar, pemimpin itu teladan bagi rakyatnya.
Umar bin Khattab justru bersyukur jika ada yang mengingatkan ketika salah. Justru ia khawatir jika tidak ada orang yang berani mengingatkan. Beliau merupakan tipikal pemimpin paling tegas di antara empat Khalifah. Namun, ia tawadhu’—siap akui salah jika memang salah.
Bukan mencari alibi atau sombongkan diri. Pantas saja ia dicintai rakyatnya dan disegani Romawi (musuhnya).
Pemimpin harus memiliki beberapa syarat. Di antaranya; seorang yang mampu berbuat adil di antara masyarakat, melindungi rakyat dari kerusakan dan kejahatan, dan tidak dzalim (tirani).
Kehebatan kepemimpinan bukan dari besarnya pengaruh atau luasnya informasi, tapi dari kuatnya mental, tegarnya iman, dan kejujurannya. Seperti apa karakter pemimpin yang adil?
Seorang pemimpin haruslah rela berdekatan dengan rakyat kecil, melepas baju kesombongan. Pemimpin yang baik itu pekerja bukan sekedar penguasa.
Begitu pentingnya memenuhi kebutuhan rakyat kecil, imam al-Ghazali bahkan berfatwa bahwa mendatangi rakyat untuk memberi sesuap kebutuhannya adalah lebih baik daripada menyibukkan diri beribadah sunnah.
Seseorang harus memimpin dirinya sendiri. Yakni kemampuan memimpin jiwa, akal dan hawa nafsunya. Jika seorang memiliki ilmu dan terhias dengan adab, maka dia akan mampu mengontrol secara rasional kehendak nafsu dalam dirinya itu. Inilah yang dinamakan kepemimpinan bersifat multidimensional.
Pemimpin wajib mengetahui hakikat kekuasaan dan menghindari sifat takabbur. Biasanya setiap pejabat pasti dicoba dengan rasa takabbur. Takabbur seorang pemimping adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, karena akan mendorong pada perbuatan saling bermusuhan.
Maka, mencoba bercita-cita jadi pemimpin jika belum terdidik mental dan hatinya. Menjadi pemimpin bukan sekedar bermodal uang, gelar dan pengaruh. Jika tidak, pasti tergelincir. Dimusuhi rakyat dan dimurkai Allah.
Mari teladani khalifah ‘Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu misalnya, setiap malam beliau berkeliling kota Madinah untuk memastikan rakyatnya dalam kondisi aman dan terpenuhi kebutuhan makanannya. Umar ra itu tegas tapi tetap sopan.
Di zaman Kekhalifahan Bani Umayyah, kita kenal Umar bin Abdul Aziz. Khalifah yang kaya dan berilmu. Bahkan beliau termasuk kategori ulama. Pengagumnya sangat banyak.
Namun, ia tidak sombong. Karena ia faham hakikat kekuasaan. Itu titipan Allah, bukan untuk kesombongan. Ia sederhana. Kelewat hati-hati dalam menjaga supaya ia ’bersih’.
Suatu hari salah satu kerabatnya memberi hadiah buah apel, namun beliau menolak secara halus – meskipun di hari itu ia betul-betul sangat menginginkan untuk mencicipi buah apel. Beliau menolak hadiah tersebut karena khawatir hal itu menjadi risywah (suap), padahal kerabat beliau tidak bermaksud memberi suap.
Itulah karakter dan mental pemimpin yang diabadikan kisah-kisahnya. Kita tidak pernah kekurangan teladan. Persoalannya sekarang, berminatkan pemimpin kita hari ini menjadikan mereka sebagai teladan? Dari segi kekuasaan, mereka sukses. Maka layak ditiru mentalnya oleh pemimpin kita.


















