London, Gontornews – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Inggris, Amber Rudd, mengundurkan diri.
Seperti dirilis Aljazeera, pengunduran diri Rudd pada Ahad (29/4) malam terjadi setelah beberapa pekan penyelidikan atas atas skandal perlakuan terhadap imigran yang sebagian besar keturunan Karibia yang tiba di Inggris setelah Perang Dunia II untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja. Mereka dikenal dengan sebutan Windrush.
Awal bulan ini Rudd meminta maaf kepada anggota parlemen setelah banyak laporan mengungkapkan perlakuan buruk terhadap Windrush. Mereka tidak dilayani, kehilangan pekerjaan, dan bahkan terncam deportasi karena pengetatan aturan imigrasi.
Rudd pada hari Rabu mengatakan kepada anggota parlemen, tidak ada target pendeportasian imigran tidak berdokumen. Tetapi sehari kemudian, dia dipaksa meralat pernyataannya itu. Dia mengatakan, target itu memang ada namun dia tidak menyadarinya.
Dia kembali mendapat kecaman setelah The Guardian melaporkan sebuah memo enam halaman yang berisi bocoran bahwa Kementerian Dalam Negeri telah menetapkan “target untuk mencapai 12.800 tunjangan yang diberlakukan pada 2017-2018”, meskipun Rudd mengatakan dia tidak melihat dokumen itu.
Tetapi pada hari Ahad, laporan lain oleh harian Inggris menyebutkan dia telah menulis surat kepada Perdana Menteri Inggris, Theresa May, pada Januari 2017 yang menyebutkan target ambisius untuk mendeportasi paksa lebih dari 10 persen imigran.
May menjawab, dengan “sangat menyesal” ia menerima pengunduran diri Rudd. Dengan pengunduran diri ini, maka sudah ada empat menteri yang mundur dalam waktu enam bulan. Pada hari Senin, May menunjuk Sajid Javid sebagai Mendagri baru. [Rusdiono Mukri]



















