Ljubljana, Gontornews — Pemerintah Slovenia, Selasa (30/11/2021), menghentikan penggunaan vaksin Covid-19 Johnson & Johnson seiring kemunculan kasus pembekuan darah yang sangat langka. Menteri Kesehatan Slovenia, Janez Poklukar, mengumumkan bahwa Slovenia tidak akan lagi menggunaan vaksin Johnson & Johnson untuk suntikan vaksin Covid-19.
Slovenia menangguhkan penggunaan vaksin dosis tunggal pada September setelah seorang wanita meninggal karena kasus pendarahan otak hanya beberapa hari setelah menerima dosis vaksin.
Para ahli mengonfirmasi bahwa kematian seorang wanita berusia 20 tahun tersebut terkait dengan kasus vaksinasi. Panel ahli menyatakan bahwa wanita itu meninggal karena trombositopenia imun protombotik, yakni efek samping dari penggunaan vaksin yang sangat langka.
“Artinya penangguhan semenara (vaksin) Janssen saat ini akan menjadi permanen,” ungkap Poklukar sebagiamana dilansir Euro News.
Pada saat yang bersamaan, Poklukar, yang mewakili pemerintah, mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga dan rekan-rekan korban.
“Tidak ada prioritas yang lebih besar dari pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat yang kami layani. Kami dengan hati-hati meninjau laporan efek samping pada individu penerima obat atau vaksin kami,” sanggah Johnson & Johnson kepada Reuters.
“Setiap laporan tentang seseorang penerima vaksin Covid-19 dan setiap penilaian kami bagikan ke Badan Pengawas dan Obat Makanan Amerika Serikat dan otoritas kesehatan lain yang terkait,” sambung pernyataan perusahaan farmasi global tersebut.
Pemerintah Slovenia mengklaim ada enam orang yang meninggal dunia setelah menerima vaksin Johnson & Johnson. Secara total, lebih dari 16,3 juta penduduk Slovenia yang telah mendapatkan vaksinasi. [Mohamad Deny Irawan]





















