TOKYO, Gontornews — Pemerintah Jepang mengaku lebih memilih sikap hati-hati dalam menangani Korea Utara (Korut). Hal itu tidak terlepas dari tuntutan Jepang kepada Korut atas penculikan Orang Jepang puluhan tahun yang lalu.
Demikian mengenai prospek pembicaraan antara Korea Selata dan Korea Utara, serta rencana pertemuan Amerika Serikat dengan Korea Utara. Jepang juga telah memperingatkan bahwa pembicaraan demi perundingan akan sulit7 diterima.
Hal itu disampaikan Jepang saat kunjungan kepala dinas Intelijen Nasional Korea Selatan Suh Hoon ke Jepang, Selasa (13/3). Kunjungan Korea Selatan adalah untuk memberitahukan negara tetangga dan sekutu, termasuk Jepang, soa kunjungan delegasi Korea Selatan ke Korea Utara pekan lalu, yang mencakup pembicaraan dengan pemimpin Kim Jong Un, soal denuklirisasi dan kesepakatan mengenai KTT dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, saat bertemu Suh mengatakan, Jepang menginginkan perundingan denuklirisasi dengan Korea Utara, selain itu uga menangani perselisihan mengenai penculikan warga Jepang oleh agen Korea Utara pada tahun 1970an dan 1980an.
Dia juga mengatakan Korea Utara harus menunjukkan kesediaannya untuk melucuti senjata. Intinya, menurut Abe, kebijakan Jepang adalah menginginkan resolusi dari masalah penculikan, nuklir dan rudal.
“Korea Utara harus mencocokkan kata-katanya dengan tindakan,” ujar Abe, Rueters.
Selain itu, menurut sumber Pemerintah Jepang juga mengatakan bahwa Jepang sedang mempertimbangkan untuk mengadakan pertemuan puncak antara Abe dan Pemimpin Korea Utara Kim untuk membahas penculikan tersebut.
Abe telah membuat penculikan sebagai batu kunci karir politiknya dan mengatakan bahwa dia tidak akan beristirahat sampai 13 orang Korea Utara mengaku telah menculik telah kembali dan negara yang terisolasi tersebut membocorkan informasi tentang orang-orang Jepang lainnya yang dicurigai dibawa untuk melatih mata-mata Korea Utara. Korea Utara mengizinkan lima orang yang diculik untuk kembali ke Jepang.
Desakan Abe bahwa penculikan tersebut dimasukkan dalam perundingan Korea Utara mungkin merupakan sumber gesekan dengan Korea Selatan.[Devi Lusiana]






















