Ponorogo, Gontornews — Program Pengembangan Desa Binaan (PDB) kembali berlanjut di Desa Mojorejo, Jetis, Ponorogo, dengan semangat baru pada tahun kedua. Diawali dengan kegiatan Sosialisasi Program Pengembangan Kampung Bamboe, acara ini menjadi pintu masuk bagi rangkaian aktivitas penguatan kapasitas dan nilai tambah produk bambu yang akan digelar sepanjang tahun.
Kepada Gontornews.com, Ustadz Bambang Setyo Utomo MIKom, dosen sekaligus Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UNIDA Gontor menginformasikan, “Bertempat di Balai Komunitas, kegiatan ini dihadiri oleh tim pengabdian Universitas Darussalam Gontor, pengrajin bambu dari Komunitas Rumah Bamboe, dan Deling Studio, serta perangkat desa.”
Dalam sambutannya, Ketua Tim Pengabdian Prof Dr Mohammad Muslih MA, menegaskan bahwa tahun kedua program menekankan pada value building, yaitu membangun nilai tambah pada produk bambu melalui strategi branding, diversifikasi desain, serta pemasaran digital. “Kalau tahun pertama fokus kita adalah capacity building, maka tahun ini kita ingin agar produk bambu Mojorejo tidak hanya bagus dibuat, tapi juga kuat dipasarkan, memiliki merek, dan mudah dikenal di pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Kegiatan sosialisasi ini menghadirkan paparan program kerja yang akan dijalankan selama 2025. Tim menjelaskan secara detail daftar kegiatan yang meliputi pendampingan pembentukan brand, pelatihan e-commerce, sosialisasi budaya kerja 5R, penyuluhan penggunaan alat pelindung diri (APD), pelatihan teknologi tepat guna (TTG), pendampingan komunikasi bisnis dalam forum internasional, hingga sosialisasi diversifikasi produk dan sistem Quality Assessment/Quality Control (QA/QC). Paparan ini disusun agar para pengrajin memiliki gambaran menyeluruh tentang tahapan yang akan dilalui dan luaran yang ditargetkan.
Mitra pengrajin yang hadir menyambut baik kegiatan ini. Sutrisno, salah satu anggota Komunitas Roemah Bamboe, mengungkapkan bahwa tahun pertama program telah memberi manfaat besar, terutama dalam hal peningkatan kualitas produksi dan penggunaan alat TTG. “Sekarang kami lebih percaya diri dengan produk yang dihasilkan. Namun memang masih ada PR besar, yaitu bagaimana produk ini bisa dikenal luas dan punya brand yang kuat. Karena itu kami senang sekali ketika mendengar bahwa tahun ini fokusnya ke arah sana,” ujarnya.
Selain pemaparan program, sosialisasi juga menghadirkan sesi dialog interaktif. Para pengrajin diberi kesempatan menyampaikan masukan, harapan, dan kendala yang mereka hadapi di lapangan. Isu-isu seperti kesulitan mengakses pasar menengah ke atas, kebutuhan desain kemasan yang lebih modern, hingga perlunya pendampingan dalam memasarkan produk secara digital, menjadi sorotan utama. Tim pengabdian mencatat seluruh masukan tersebut untuk dipadukan dengan strategi pelaksanaan kegiatan berikutnya.
Acara ditutup dengan penegasan komitmen bersama antara tim pengabdian, mitra pengrajin, dan perangkat desa untuk mendukung keberlanjutan program. Kepala Desa Mojorejo, dalam sambutannya, mengapresiasi kerjasama yang telah terjalin. “Program ini tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga harapan baru bagi warga Mojorejo untuk naik kelas dalam ekonomi kreatif. Kami berkomitmen mendukung penuh setiap kegiatan yang dijalankan,” tuturnya.
Dengan dimulainya Sosialisasi Program Roemah Bamboe, Desa Mojorejo menatap tahun kedua program PDB dengan optimisme. Harapannya, melalui strategi yang lebih terarah pada penguatan merek, inovasi desain, dan pemasaran digital, Mojorejo bisa tampil sebagai desa kreatif berbasis bambu yang berdaya saing tinggi, bukan hanya di pasar lokal, tetapi juga regional bahkan global. <Edithya Miranti>






















