Madrid, Gontornews — Pemerintah Spanyol, Selasa (29/6/2021), menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang memungkinkan anak berusia 14 hingga 16 tahun untuk menentukan gendernya secara legal tanpa diagnosis medis atau terapi hormon.
Sebagai tindak lanjut, parlemen akan membawa RUU ini untuk uji publik sebelum diajukan ke kabinet serta dilakukan pemungutan suara di majelis rendah parlemen. RUU ini akan menghapus aturan persyaratan dua tahun masa terapi hormon maupun penilaian psikologis penentu jenis kelamin dalam catatan sipil seseorang.
“Ini adalah hari bersejarah setelah lebih dari 15 tahun tanpa proses legislasi yang bergerak maju,” ungkap Menteri Kesetaraan Spanyol, Irene Montero, dalam konferensi pers yang dikutip Reuters.
“Kami mengirim pesan kuat untuk perlindungan orang-orang LGBTI,” imbuhnya merjuk pada komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Interseks.
Meski demikian, RUU ini menetapkan batas usia yakni anak berusia 14 hingga 16 tahun untuk menentukan jenis kelaminnya. Sekalipun, mereka tetap membutuhkan persetujuan dari orang tua mereka. Persetujuan ini merupakan proses legislasi dimana ada kelompok parlemen yang ingin memberikan kebebasan total kepada anak-anak untuk mendapatkan pengakuan gender secara sah.
Sejumlah aktivis keluarga dan anak-anak transgender mengatakan rancangan undang-undang ini tidak sesuai harapan. Sementara beberapa aktifis feminis justru tegas menentang aturan ini.
Melalui RUU ini, Spanyol akan bergabung dengan belasan negara dunia yang ingin memisahkan pilihan gender berdasarkan prosedur medis. Spanyol pun menjelma menjadi negara besar Eropa yang memperkenalkan aturan identifikasi diri atau ‘Self-ID’.
Andai proposal RUU ini disetujui, orang-orang transgender akan mendapatkan jenis kelamin mereka dengan mengisi formulir dan mengonfirmasi keputusanya tiga bulan kemudian.
Saida Garcia dari organisasi Euforia, yang mendukung anak-anak transgender, mengatakan RUU ini gagal mengakomodir anak-anak berusia 12 dan 13 tahun untuk menentukan gendernya melalui persetujuan pengadlan.
“Tidak benar adanya penentuan nasib sendiri jika batasa usia tetap ada,” ungkap Saida Garcia .
Sementara itu, seorang ibu dari anak remaja non-biner, Chacon Martinez, mengatakan bahwa menunggu hingga umur 14 tahun merupakan sesuatu yang sulit. “Menunggu sampai anda berusia 14 tahun untuk mendapatkan status identifikasi Anda sebenarnya sangat sulit,” ucap Martinez.
“Reformasi hukum ini bersifat regresif dan penting untuk menghentikan agar perlindungan hak-hak khusus terhadap penindasan berbasis gender (tetap ada),” tutup forum komunitas 50 kelompok feminis Spanyol, Confluencia Feminista Federation. [Mohamad Deny Irawan]





















