Kolombo, Gontornews — Pemerintah Sri Lanka mengesampingkan saran penguncian wilayah guna menahan lonjakan kasus Covid-19. Juru bicara Pemerintah sekaligus Menteri Media Sri Lanka, Keheliya Rambukwella mengatakan pemerintah menilai kondisi Covid-19 tidak belum mengharuskan pemerintah memberlakukan penguncia wilayah.
“Pemberlakukan jam malam atau penguncian adalah pilihan terakhir. Tetapi, kami belum sampai di sana,” kata Rambukwella kepada Channel News Asia.
“Target kami adalah membuat semua orang berusia 18 tahun ke atas mengikuti vaksinasi pada bulan September. Setelah itu semua keputusan ada di tangan Tuhan,” sambungnya.
Pernyataan Rambukwella muncul setelah asosiasi tenaga medis Sri Lanka, Sri Lanka Medicine Agency (SLMA) mengeluarkan peringatan terakhir kepada pemerintah agar mengeluarkan aturan yang membatasi pergerakan masyarakat.
“Kami telah memberikan peringatan terakhir kepada pemerintah untuk mengambil langkah-langkah mendesak untuk mengunci setidaknya selama dua pekan,” kata Juru bicara SLMA.
Menteri Muda kesehatan Sri Lanka, Channa Jayasumana, menjelaskan varian Delta memicu lonjakan kasus Covid-19 di Sri Lanka. Ia tidak segan menyebut varian Delta bak bom yang meledak di Kolombo dan menyebar ke tempat lain.
Pada Jum’at (6/8/2021) lalu, Pemerintah Sri Lanka memperketat wilayah perbatasan serta melarang upacara keagamaan dan pertemuan publik hingga 1 September mendatang. Namun, pemerintah memperbolehkan masyarakat untuk beraktifitas normal seperti pembukaan toko, restoran, perkantoran hingga transportasi.
Pada Senin (10/8/2021), otoritas kesehatan Sri Lanka melaporkan penambahan 111 kematian dalam 24 jam terakhir. Angka ini menjadi rataan tertinggi angka kematian nasional dalam sepekan terakhir. Sementara angka infeksi meningkat dua kali lipat menjadi hampir 3.000 kasus baru.
Sementara itu, lebih dari 112 juta warga dari total 21 juta populasi telah mendapatkan setidaknya satu dosis vaksin. Sedangkan 3,2 juta warga telah mendapatkan dua dosis vaksin lengkap.
Secara total, Sri Lanka mencatat 5.222 kematian serta melaporkan hampir 333.000 kasus sejak pandemi merebak. [Mohamad Deny Irawan]





















