Kairo, Gontornews – Hasil awal pemelihan presiden Mesir menunjukkan, Abdel Fattah El-Sisi berhasil menempatkannya sebagai pemenang untuk memperpanjang masa jabatannya sebagai Presiden Mesir. Meski demikian, El-Sisi menang dengan suara lebih sedikit dari suara yang diperolehnya saat menggulingkan Presiden yang terpilih secara demokratis, Mohamed Mursi.
“Rakyat telah memilih Presiden mereka,” kata salah satu surat kabar pro pemerintah Mesir, Al-Ahram sebagaimana dikutip Reuters.
Meski penghitungan suara secara resmi dilakukan pada 2 April mendatang, Sisi dan para pendukungnya berharap tidak mendapatkan tantangan dari oposisi dalam periode keduanya. Faktanya tidak demikian, suara yang diperoleh El-Sisi menurun hingga mencapai 40% atau turun 47% dari perolehan suaranya saat menduduki kursi Presiden Mesir pada tahun 2014 yang mencapai 97%.
Sementara itu, kantor berita Mesir, MENA, mengatakan bahwa sekitar 23-25 juta dari 59 juta pemilih sah telah menggunakan hak suara dalam pemilihan Presiden tahun 2018.
El Sisi gencar melakukan kampanye dalam pemilihan kali ini untuk menunjukkan kekuatan popularitasnya serta mencari mandat yang kuat demi memerangi gerakan separatis, radikalisme serta mendorong reformasi ekonomi.
Menurut seorang peneliti dari Tahrir Institute for Middle East Policy, Timothy Kaldas mengatakan bahwa ‘lawan’ El Sisi dalam pemilihan Presiden kali ini, Moussa Mostafa Moussa, tidak lebih dari sekedar kandidat bonek.
“Semua laporan awal menunjukkan bahwa jumlah pemilih menurun jika dibandingkan pada periode 2014 yang lalu meski segala upaya telah dilakukan untuk menaikkan angka pemilih,” kata Timothy.
“Tetapi tidak jelas, apa konsekuensi yang tejradi pada pemerintah yang tampaknya tidak percaya bahwa para pemilik suara seolah telah diatur sejak awal,” tambah Timothy.
Otoritas dan Media di Mesir tengah mencoba mengumpulkan suara sebanyak mungkin untuk mengajak para pemilik suara untuk menggunakan hak suaranya serta menggambarkan kegagalan memilih presiden yang justru menjadi pengkhianat terhadap negara.
Tidak hanya itu, beberapa pemilih juga dikabarkan diberi intensif agar memberikan hak suara mereka. Sejumlah oposisi memutuskan untuk tidak ambil bagian dalam pemilihan setelah menjadi penantang utama El Sisi serta penangkapan sejumlah pihak yang mengkritik keras kebijakan El Sisi terhadap organisasi Ikhwanul Muslimin yang disebutnya sebagai organisasi teroris. [Mohamad Deny Irawan]






















