Kairo, Gontornews — Korban tewas akibat kekerasan suku antara orang Arab dan non-Arab di Provinsi Darfur Barat, Sudan, bertambah menjadi setidaknya 83 orang termasuk wanita dan anak-anak. Demikian dirilis Arabnews.com.
Bentrokan mematikan itu muncul dari baku tembak pada hari Jumat antara dua orang di sebuah kamp pengungsian di Genena, ibukota provinsi. Seorang pria Arab ditikam hingga tewas dan keluarganya, dari suku Rizeigat Arab, menyerang orang-orang di kamp Krinding dan daerah lain pada hari Sabtu.
Di antara korban tewas seorang warga negara AS bernama Saeed Baraka (36) dari Atlanta. Ia telah tiba di Sudan kurang dari dua bulan lalu untuk mengunjungi keluarganya di Darfur, kata istrinya, Safiya Mohammed, kepada The Associated Press melalui telepon.
Ayah tiga anak itu bergegas menyelamatkan seorang tetangga di tengah bentrokan di Desa Jabal di Darfur Barat, ketika dia ditembak di kepalanya pada hari Sabtu, kata saudara iparnya Juma Salih.
Istri Baraka mengatakan, kedutaan besar AS di Khartoum meneleponnya untuk menyampaikan belasungkawa.
Kekerasan menyebabkan otoritas lokal memberlakukan jam malam sepanjang waktu di seluruh provinsi. Selain 83 orang yang tewas, sedikitnya 160 lainnya terluka, menurut komite dokter Sudan di Darfur Barat.
Bentrokan mereda pada hari Ahad tengah hari, dan situasi keamanan mulai membaik.
Komite itu merupakan bagian dari Asosiasi Profesional Sudan, yang memelopori pemberontakan yang pada akhirnya menyebabkan penggulingan presiden Omar Al-Bashir oleh militer pada April 2019. []





















