Kabul, Gontornews β Para pejuang Taliban memasuki Kabul dan menguasai kembali Afghanistan pada Ahad, 20 tahun setelah invasi pimpinan AS yang menggulingkan mereka.
Arabnews.com melansir, dalam peristiwa yang mengingatkan jatuhnya Saigon pada tahun 1975 pada akhir perang Vietnam, staf diplomatik Amerika Serikat diterbangkan dengan helikopter dari Kedutaan Besar AS di distrik Wazir Akbar Khan yang dibentengi di ibukota Afghanistan.
Ketika pejuang Taliban mengambil alih istana kepresidenan, Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu dan diperkirakan berada di Tajikistan. Orang-orang Afghanistan di media sosial mencapnya sebagai “pengecut.”
Ghani mengatakan, dia pergi untuk βmencegah banjir pertumpahan darahβ dan bahwa βpatriot yang tak terhitung jumlahnya akan menjadi martir dan kota Kabul akan dihancurkanβ jika dia tetap tinggal.
“Taliban telah menang dengan pedang dan senjata mereka, dan sekarang bertanggung jawab atas kehormatan, properti, dan keselamatan diri warga negara mereka,” katanya dalam sebuah posting Facebook.
Namun Ghani tidak mengatakan ke mana dia pergi, tetapi kelompok media terkemuka Afghanistan, Tolo News, menyatakan dia pergi ke Tajikistan.
Jalan-jalan Kabul penuh sesak dengan mobil dan orang-orang yang berusaha mencapai bandara. βBeberapa orang telah meninggalkan kunci mereka di dalam mobil dan sudah mulai berjalan ke bandara,β kata seorang warga.
Ratusan warga Afghanistan, beberapa dari mereka menteri dan pegawai pemerintah, bersama dengan warga sipil termasuk banyak wanita dan anak-anak, memadati gedung terminal di bandara Kabul menunggu penerbangan keluar.
“Bandara di luar kendali … pemerintah Afghanistan baru saja menjual kami,” kata seorang pejabat di gedung itu. Seorang pejabat NATO mengatakan aliansi itu membantu mengamankan bandara dan bahwa kesepakatan politik “sekarang lebih mendesak dari sebelumnya.”
Sebuah rumah sakit Kabul mengatakan sedang merawat lebih dari 40 orang yang terluka dalam bentrokan di pinggiran kota, tetapi pengambilalihan Taliban tampaknya sebagian besar tidak berdarah dan tidak ada pertempuran besar.
Taliban mengatakan sedang menunggu pemerintah untuk menyerah secara damai. “Pejuang Taliban bersiaga di semua pintu masuk ke Kabul sampai pengalihan kekuasaan yang damai dan memuaskan disepakati,” kata juru bicara Zabihullah Mujahid.
Penjabat menteri dalam negeri pemerintah, Abdul Sattar Mirzakawal, mengatakan kekuasaan akan diserahkan kepada pemerintahan transisi. “Tidak akan ada penyerangan ke kota, disepakati akan ada penyerahan damai,” katanya.
Jurubicara Taliban lainnya, Suhail Shaheen, mengatakan pengalihan kekuasaan diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari. βKami meyakinkan orang-orang, khususnya di kota Kabul, bahwa properti mereka, kehidupan mereka aman,β katanya.
Kecepatan kemajuan Taliban dalam dua pekan terakhir telah mengejutkan kekuatan Barat, karena kota demi kota jatuh ke tangan pemberontak dengan sedikit perlawanan dari pasukan pemerintah Afghanistan, yang dilatih dan dilengkapi persenjataan oleh AS dan lainnya dengan biaya miliaran dolar.
Presiden Joe Biden telah menghadapi kritik karena mengikuti kebijakan pendahulunya Donald Trump untuk mengakhiri misi militer AS di Afghanistan pada 31 Agustus. βKehadiran Amerika tanpa akhir di tengah konflik sipil negara lain tidak dapat saya terima,β kata Biden. []





















