Ponorogo, Gontornews — Tarhib Ramadhan bertema “Ramadhan Segera Datang, Usia 40 Apa yang Kau Cari?” telah sukses menarik antusias puluhan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2005 dari berbagai wilayah. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Tarhib Ramadhan kali ini menghadirkan sang guru teladan sekaligus wali kelas saat menyantri dahulu yakni, Ustadz Sunanto WR SAg.
Acara yang diadakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting tersebut dimulai sekitar 19.30 WIB dan dipandu langsung oleh Ustadzah Dr Peny Respati Yurisa MPd. Dalam pemaparannya, Ustadz Sunanto menjelaskan agar alumni tidak melupakan identitasnya, baik sebagai orang Indonesia, orang Timur, dan santri Gontor Putri, serta harus mempunyai pegangan yaitu Panca Jiwa.
Mengapa umur 40 tahun dipermasalahkan? Menurut perkembangan secara logika dan sosial, umur itu punya martabat yang sangat strategis dalam diri manusia, di antaranya menunjukkan kematangan dalam kepribadian dan keilmuan. Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun.
“Karena keilmuan kita sudah sekian derajat, sudah selayaknya kita membaca rapot kita masing-masing, tidak ada istilah ngecharge diri ketika datang ke pondok,” tekan sang guru kepada Gontornews.com.
Sekarang ini, kita bukan sekadar orang yang memberi peringatan (kesabaran dan kebenaran), akan tetapi kita harus menjadi orang yang menyelamatkan. Kalau kita ini salah, harus berani membetulkan. Kalau yang kita punya ini kurang, harus ditambah. Kalau yang kita miliki sudah baik, maka harus disempurnakan. Kalau yang kita punya sudah sempurna, maka harus dipertahankan.
Ada satu hal yang tidak kalah penting, bahwa kita harus memikirkan hutang kita. Kita hidup ini sebenarnya penuh dengan hutang. Tugas dan kewajiban kita lebih banyak dari umur yang ada pada kita.
Ustadz Sunanto pun menambahkan, “Hutang kita sebenarnya banyak, mulai dari harta, jasa, kezaliman, semua harus kita bayar, penting sekali untuk kita perhatikan supaya hidup kita lunas. Supaya tugas yang kita emban, bisa kita tunaikan semuanya.”
Oleh karena itu, jangan lupa menggunakan kesempatan. Allah memberikan waktu-waktu yang intensif buat kita, contohnya di bulan Ramadhan ini waktu yang intensif. Karena semua yang kita lakukan di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya untuk mengejar tugas kita.
“Tidak boleh dilupakan, sebenarnya kita hidup serba sendiri, lahir, mati, ke surga pun sendiri, tapi pada hakikatnya pendukung di belakang kita banyak. Berdoa, minta doa, dan mendoakan,” tutup sang guru.
Tidak hanya memberikan pesan dan nasihat, kegiatan malam itu juga dipenuhi dengan canda tawa dan nostalgia kebersamaan saat menyantri di Gontor Putri dulu. Kedekatan emosional yang terlihat antara peserta dengan sang guru kala Zoom Meeting berlangsung, hingga kini masih menyisakan kesan mendalam bagi alumni.
Semoga semua ilmu yang diberikan bisa menambah keimanan dan wawasan bagi seluruh peserta, khususnya dalam menapaki tangga-tangga keberkahan di bulan suci Ramadhan. [Edithya Miranti]






















