Bangkok, Gontornews — Pemerintah Thailand melarang protes serta mempublikasi informasi yang berkaitan tentang Raja Maha Viajralongkorn dan Perdana Menteri Prayut Chan’ocha, Kamis (15/10). Pemberlakuan keputusan darurat ini berdasar pada meningkatnya kekacauan, kerusakan ekonomi serta meningkatnya penyebaran Covid-19.
“Sangat penting untuk memperkenalkan tindakan darurat tersebut untuk mengakhiri situasi ini secara efektif dan segera untuk menjaga perdamaian dan ketertiban,” ungkap pernyataan resmi pemerintah sebagaimana dilansir Reuters.
Tak sampai 30 menit sejak pengumuman ini disampaikan, polisi anti huru hara menangkap sejumlah pengunjuk rasa yang berdiam di halaman kantor Perdana Menteri Prayut. Para pengunjuk rasa meminta Perdana Menteri Prayut Chan’ocha untuk mundur dari jabatannya serta membentuk konstitusi baru.
Pihak kepolisian berhasil menangkap sekitar 20 orang pengunjuk rasa termasuk dua pemimpin unjuk rasa yang vokal dan mengkritik sistem monarki.
Pada Rabu (14/10), puluhan ribu pengunjuk rasa memadati Government House dan bersumpah untuk tetap berada di lokasi sampai Prayuth pergi. “Kami belum dapat memulihkan demokrasi yang sebenarnya,” kata Sun Pathong, seorang pengunjuk rasa.
“Saya akan kembali. Kami harus terus berjuang bahkan jika kami harus mempertaruhkan nyawa kami,” imbuhnya.
Senada dengan Pathong, pemimpin mahasiswa Panusaya Sithijirawatanakul mengatakan pengunjuk rasa berencana melanjutkan protes pada pukul 4 sore. Namun, Jurubicara Kepolisian Thailand Kissana Phathanacharoen mengatakan pemerintah melarang segala bentuk protes berdasarkan aturan tersebut.
Polisi juga berhasil mengamankan pemimpin unjuk rasa, Parit Chirawat serta pengacara Arnon Nampa. Sebelumnya, pihak kepolisian berhasil menangkap dan menahan dua puluh pengunjuk rasa dalam demonstrasi yang terjadi pada Selasa (13/10).
Gerakan protes di Thailand bertujuan untuk menumbangkan rezim pemerintahan Perdana Menteri Prayuth Chan’ocha. Para pengunjuk rasa menyebut Prayut memanipulasi pemiliu tahun lalu untuk mempertahankan kekuasaannya. [Mohamad Deny Irawan]





















