Mukadimah
Memasuki usia satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor, gema syukur bergema dari seluruh penjuru dunia Islam. Pesantren yang berdiri pada tahun 1926 ini bukan hanya melahirkan kader umat, tetapi juga menumbuhkan peradaban baru dalam pendidikan Islam modern.
Di balik kebesaran Gontor β yang kini dikenal dengan sistem pendidikan integralnya, tafaqquh fi al-din berpadu dengan tafaqquh fi al-hayat β tersimpan kisah masa kecil tiga tokoh pendirinya yang akrab disebut Trimurti Gontor: KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi.
Kisah ini penting untuk diangkat kembali. Bukan sekadar romantika sejarah, tetapi sebagai catatan ilmiah dan refleksi spiritual tentang pendidikan dini, peran ibu, dan benih keikhlasan yang sejak awal telah menumbuhkan peradaban besar bernama Darussalam Gontor.
Ibu Hebat, Ahli Tirakat di Balik Kesuksesan Trimurti
Jarang ditulis dalam buku sejarah resmi bahwa ketiga Trimurti memiliki sosok ibu yang luar biasa hebat dan ahli tirakat: Ibu Nyai Santosa, atau yang dalam beberapa sumber disebut juga Ibu Nyai Sudarmi dan Ibu Nyai Hj Zubaedah.
Beliau merupakan potret perempuan shalihah desa yang memiliki bashirah khalishah β pandangan batin yang jernih dan jauh ke depan. Ketika mengandung putra-putranya, beliau senantiasa memohon doa dari siapa pun yang dijumpainya, baik para kiai, guru ngaji, tetangga, bahkan orang biasa di jalan, agar anak-anak yang lahir kelak menjadi alim, shalih, dan bermanfaat bagi umat.
Tirakat Seorang Ibu: Doa yang Menembus Langit
Doa seorang ibu tidak pernah sia-sia. Ia menembus langit sebelum selesai terucap di bumi. Sejak dalam kandungan, Trimurti telah dibentuk oleh keikhlasan, tirakat, dan harapan luhur untuk menjadi pejuang ilmu dan pendidik umat.
Tersebar cerita di kalangan masyarakat Ponorogo bahwa ketika Bu Nyai Sudarmi mengandung Trimurti, beliau rajin meminta doa kepada setiap orang yang dijumpai, bahkan kepada orang jahat sekalipun. Dengan keyakinan kuat, beliau berdoa, βSemoga anak saya menjadi alim dan shalih.β
Selain itu, beliau gemar berpuasa sunnah dan tekun tahajud, sebuah tirakat panjang yang menjadi saksi lahirnya anak-anak berjiwa pejuang. Dari rahim penuh doa inilah lahir generasi yang kelak mengubah arah pendidikan Islam Indonesia.
Masa Kecil: Belajar di SD Mengaji di Mambil
Seiring bertambahnya usia, Trimurti kecil menjalani kehidupan sederhana, disiplin, dan sarat makna. Pagi hari mereka belajar di Sekolah Dasar (SD), sementara sore hari mereka berjalan kaki ke Kampung Mambil, Gandu, Mlarak, Ponorogo, untuk mengaji.
Di sanalah mereka belajar kitab-kitab mabadiβ (kitab dasar ilmu agama) kepada dua guru yang dikenal tekun dan waraβ, yakni Kiai Idris dan Kiai Syubbanun.
Kegiatan mengaji di Mambil ini merupakan fakta historis yang luput dari banyak penulisan resmi, padahal dari sinilah fondasi keilmuan dan ruh pesantren mulai terbentuk dalam diri Trimurti sejak usia dini.
Mambil bukan hanya tempat belajar, melainkan madrasah kehidupan yang menanamkan disiplin, adab, dan kecintaan kepada ilmu.
Kesaksian dan Bukti-bukti Sejarah
Beberapa kesaksian kuat meneguhkan fakta historis ini: Pertama, Tradisi Ziarah Syawal ke Gontor. Setiap bulan Syawal, jamaah Masjid Mambil memiliki tradisi silaturahim lebaran ke Gontor. Dalam kesempatan itu, KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi sering bercerita bahwa masa kecil mereka dihabiskan untuk mengaji ke Mambil. Cerita itu disampaikan dengan penuh hormat dan nostalgia β sebagai pengakuan tulus atas jasa para guru ngaji mereka di masa kecil.
Kedua, Kesaksian Para Sesepuh Mambil. Para sepuh seperti Mbah Dinar, Mbah Kasyi, dan lainnya menceritakan kepada penulis bahwa setiap sore mereka melihat Trimurti kecil berjalan kaki di sepanjang pinggiran Sungai Malo dari arah timur menuju Mambil. Mereka diikuti oleh seorang khadim (pembantu) yang membawa kitab. Tiga anak kecil bersarung dan bersongkok hitam sederhana itu berjalan tegak, penuh semangat menuntut ilmu β pemandangan yang kini tinggal dalam ingatan para sesepuh Mambil.
Ketiga, Kesaksian Dr KH Habib Chirzin. Dalam sebuah pertemuan, KH Ahmad Sahal pernah bercerita kepada Dr KH Habib Chirzin (Yogyakarta) β saat beliau masih menjadi santri Gontor β bahwa masa kecilnya memang dihabiskan untuk mengaji di Mambil. Kesaksian ini bukan hanya bernilai historis, tetapi juga spiritual dan akademis, memperkuat bahwa fondasi keilmuan Trimurti telah dibangun sejak usia dini.
Makna Pendidikan Dini: Dari Rahim ke Alam Ilmu
Kisah ini memberi pelajaran mendalam bahwa pendidikan sejati tidak dimulai dari bangku sekolah, melainkan dari pangkuan dan rahim ibu yang penuh doa.
Trimurti Gontor tidak serta-merta lahir sebagai tokoh besar. Mereka dibentuk oleh doa seorang ibu yang istiqamah, oleh tradisi belajar yang sederhana namun penuh adab, dan oleh lingkungan yang mencintai ilmu sejak dini.
Kebiasaan mereka belajar di SD Ongko Loro pada pagi hari dan mengaji di sore hari menjadi model pendidikan integral, yang kelak diwujudkan dalam sistem Kulliyyatul Muβallimin al-Islamiyyah (KMI) di Gontor. Ilmu umum dan ilmu agama berjalan beriringan, bukan berlawanan.
Inilah benih awal sistem pendidikan Gontor: harmoni antara ilmu dan amal, antara rasio dan ruhani, antara dunia dan akhirat.
Ihtitam
Dari data sejarah dan kesaksian para saksi hidup tersebut, teranglah bahwa Trimurti kecil telah rajin mengaji sejak usia dini. Mereka dipersiapkan oleh ibu yang shalihah untuk menjadi kader yang cinta ilmu, cinta agama, dan cinta perjuangan.
Tulisan ini menjadi koreksi dan pelengkap sejarah atas narasi terdahulu yang hanya menyoroti bahwa Trimurti belajar tasawuf saja.
Sesungguhnya, sebelum sampai pada derajat tasawuf, mereka lebih dahulu menempuh dasar-dasar ilmu syarβi (mabadiβ) di Mambil β menandai awal perjalanan panjang menuju puncak keilmuan dan keikhlasan.
Sejarah bukan sekadar deretan peristiwa, melainkan pancaran nilai yang membentuk masa depan. Kisah kecil Trimurti di tepi Sungai Malo merupakan cermin besar bagi setiap santri: bahwa kejayaan Gontor hari ini berakar dari kedisiplinan kecil, langkah kaki kecil, dan doa ibu yang besar.
Maka benarlah dawuh Trimurti: βPendidikan bukan menanamkan pengetahuan saja, melainkan menumbuhkan nilai adab, tarbiyah dan ta’lim.β []
DA. 12 November 2025





















