Tunis, Gontornews — Presiden Tunisia Kais Saied mengatakan pada hari Jumat bahwa ia berencana untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Suriah, lebih dari satu dekade setelah Tunisia memutuskan hubungan dengan pemerintah Bashar al-Assad karena represi terhadap lawan politik.
“Tidak ada yang bisa membenarkan ketidakhadiran duta besar Tunisia di Damaskus dan duta besar dari Suriah di Tunis,” kata Saied saat berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Tunisia Nabil Ammar yang disiarkan pada Jumat malam dan dirilis dw.com.
Saied sebelumnya menyebutkan keinginannya untuk “memperkuat perwakilan diplomatik Tunisia” di Suriah pada Februari lalu.
Tunisia telah lama dipuji sebagai salah satu dari sedikit kisah sukses ‘Musim Semi Arab’ setelah pengunjuk rasa menggulingkan Presiden otoriter Zine El Abidine Ben Ali dan mengantarkan pemilihan yang demokratis.
Negara itu kemudian mengusir duta besar Suriah pada 2012 untuk memprotes tindakan brutal Assad terhadap demonstrasi pro-demokrasi yang muncul dari ‘Musim Semi Arab’. Tindakan keras ini berujung pada perang saudara yang berlangsung hingga saat ini.
Pada 2017, Tunisia membuka kembali misi diplomatik terbatas di Suriah untuk melacak lebih dari 3.000 militan Tunisia yang berperang di Suriah.
Saied, yang mengambil alih kekuasaan pada 2019, mengatakan pada hari Jumat bahwa “pertanyaan rezim di Suriah hanya menyangkut warga Suriah.”
Dalam beberapa bulan terakhir, ribuan warga Tunisia mengadakan demonstrasi besar menentang perebutan kekuasaan oleh Saied yang kemudian dituangkan dalam konstitusi baru. Partai oposisi, kelompok masyarakat sipil, dan serikat pekerja mengatakan mereka takut kembali ke otoritarianisme. []





















