Doha, Gontornews — Turki, Iran dan Pakistan mereguk keuntungan ekonomi dari krisis Qatar. Para analis menyebutkan, perdagangan bilateral ketiga negara itu dengan Qatar meningkat.
Krisis Qatar berawal dari blokade ekonomi yang dipimpin oleh Arab Saudi, dan melibatkan Uni Emirat Arab (UEA), Mesir dan Bahrain. Keempat negara itu memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan memberlakukan blokade darat, udara dan laut sejak tanggal 5 Juni.
Berbicara pada hari Ahad (3/12) di sela-sela Forum Studi Teluk di ibukota Qatar, Doha, para analis mengatakan bahwa krisis tersebut telah membantu Iran, Pakistan dan Turki meningkatkan perdagangan bilateral dengan Qatar, serta membuka rute komersial baru dan memperkuat hubungan politik.
“Perdagangan antara Iran dan Qatar meningkat 117 persen dalam waktu kurang dari enam bulan dan ini menunjukkan efek jangka pendek dari krisis ini dan menjadi pertanda baik bagi kedua negara dalam jangka panjang,” papar Luciano Zaccara, pakar Studi Teluk dan Islam di Universitas Qatar seperti dikutip Aljazeera.
Angka yang dikeluarkan oleh administrasi bea cukai Iran bulan lalu menunjukkan, negara tersebut mengekspor 737.500 ton barang non-minyak senilai US$ 67,5 juta ke Qatar selama lima bulan terakhir. Angka ini meningkat 60,57 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Iran juga sangat tertarik dengan pasar Qatar,” tambah Zaccara. “Mereka telah menunjukkan komitmen dengan mencoba mengakomodasi kebutuhan spesifiknya. Hubungan komersial ini akan tetap utuh meski krisis GCC (Gulf Cooperation Council) dapat diselesaikan.”
Iran dan Qatar berbagi ladang gas terbesar di dunia. Beberapa minggu setelah blokade diberlakukan, Qatar mengumumkan rencana untuk meningkatkan produksi gas sebesar 30 persen.
Menurut Zaccara, ini menunjukkan pentingnya Qatar memberikan koordinasi yang lebih baik dengan Iran, baik dalam hal jumlah produksi gas maupun harga gas.
Penandatanganan perjanjian transportasi darat antara Iran, Qatar dan Turki, baru-baru ini bertujuan untuk mengurangi biaya dan periode transit barang, juga disebut-sebut sebagai tonggak utama dalam hubungan perdagangan negara-negara tersebut.
Sementara itu, investasi Qatar di Turki meningkat mencapai lebih dari US$ 20 miliar. Angka ini tertinggi kedua di dunia, yang menurut Murad Yesitlas, seorang ahli geopolitik dan studi keamanan dari Turki, menunjukkan “kepentingan Qatar ke Turki”.
Yesitlas menambahkan bahwa penguatan hubungan militer antara kedua negara baru-baru ini juga merupakan indikator penting dari hubungan ini.
Sedangkan Pakistan, yang secara historis memegang ikatan kuat dengan semua negara GCC, memilih untuk tetap netral dalam kasus Qatar. Namun, Perdana Menteri Nawaz Sharif mengunjungi Riyadh untuk menawarkan diri menjadi penengah krisis Qatar dengan negara-negara GCC. [Rusdiono Mukri]





















