Calgary, Gontornews — Seorang hakim di Calgary, Kanada, Alberta membuat keputusan yang mengejutkan publik setempat. Secara ilmiah dan faktual, pengadilan memaparkan adanya tindakan diskriminatif yang selama ini dialami oleh siswa-siswi Muslim di sekolah negeri dan swasta. Pada beberapa kasus, sekolah melarang siswa melaksanakan shalat.
Keputusan ini mendapat apresiasi dari ulama Syaikh Soharwardy dari Majelis Islam Al-Madinah Calgary. Menurutnya, sekolah tak seharusnya melarang anak-anak yang masih dalam tahap belajar latihan menjalankan ajaran agamanya.
“Saya setuju dengan keputusan itu karena mereka hanya berlatih menjalankan hak-hak mereka dan hak-hak mereka harus dihormati,” ungkapnya.
Menurut pendiri Dewan Tertinggi Islam Kanada ini, perilaku siswa-siswi yang menjalankan ibadah di sekolah tak menyebabkan gangguan apapun.
“Mereka hanya berdoa. Kita harus menghormati hak-hak setiap warga negara dan mereka memiliki hak untuk beribadah,” tuturnya.
Soharwardy sangat menyayangkan kasus ini sampai ke pengadilan. Apalagi dilakukan oleh pihak sekolah yang semestinya mendorong kebaikan.
“Saya tidak percaya mereka punya niat buruk untuk menghentikan anak-anak muda dari shalat. Saya pikir mereka hanya tidak memahami hak-hak hukum yang anak-anak ini memiliki. Saya tidak percaya itu adalah perbuatan rasis,” tandasnya.
Soharwardy juga menyarankan agar pihak sekolah mempertimbangkan kebijakan tersebut dan mengizinkan semua siswa beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
Pada beberapa kasus yang ditemukan Komisi Hak Asasi Manusia, sejak tahun 2015 terjadi pelanggaran hukum di Webber Academy, di mana siswa yang shalat di sekolah didenda sebesar 26.000 dolar. Meskipun siswa-siswi telah bersaksi bahwa shalat adalah wajib dalam agama, namun hukuman itu tetap diberlakukan.
Namun pihak sekolah beralasan bahwa orangtua siswa telah diberi tahu tidak ada ruang di sekolah untuk beribadah. Pihak sekolah juga akan mengajukan banding atas keputusan tersebut. [Ahmad Muhajir/Rus]




















