Ponorogo, Gontornews– Anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Hasyim Muzadi menjelaskan, sejak Indonesia merdeka tahun 1945, umat Islam memiliki berbagai macam tantangan akan dibuat seperti apa negara ini. Maka ada pendekatan kekerasan melalui militer lahir DI/TII. Ada pendekatan militer dan politik lahir PRRI dan Permesti.
Kelompok yang tidak suka agama dan ateis ikut bersaing sehingga terjadi pemberontakan komunis tahun 1948 dan tahun 1965. Setelah militer gagal melakukan pendekatan, dipakai pendekatan konstitusional. Seluruh umat Islam bergerak di konstituante untuk merumuskan dasar negara.
“Ada yang minta pancasila, Islam dan sosio demokrasi,” terang Kiai yang pernah menjadi Ketua PBNU dua periode ini.
Akhirnya tahun 1959 Bung Karno menyerukan untuk kembali ke UUD 1945. Pada pemilu tahun 1971 umat Islam menjadi satu kekuatan membela PPP. Sampai tahun 1982, persatuan mulai retak sehingga PPP yang dulu dimodali darah dan air mata per hari ini nasibnya la yamutu wala yahya.
Dari perjalanan ini para ulama berkesimpulan bahwa Islam dalam peradaban belum tentu Islam dalam formalistik. Sebab menurutnya, ketika Islam diformalkan, tantangannya bisa dari umat Islam sendiri.
Maka pada tahun 1983 di Pesantren Kiai As’ad Sukorejo Jawa Timur berkumpul para ulama mencari jalan supaya Indonesia selamat dan tidak ada goncangan. Para ulama menetapkan bahwa untuk urusan ideologi negara berdasarkan mayoritas bangsa menggunakan Pancasila tapi untuk akidah ditetapkan sesuai dengan keyakinan kepada Allah SWT.
Dalam sebuah kesempatan Kiai Hasyim bertanya kepada KH Ahmad Siddiq yang menjadi sosok kunci keputusan tersebut. Apakah keputusan ini hasil ijtihad atau politis. Ulama kharismatik ini menjawab bahwa ini adalah ijtihad sendiri. “Sebelum kamu banyak bertanya baca Misaqun Madinah (Piagam Madinah),” jawab Kiai Siddiq.
Itulah sejarah ulama di Indonesia yang mengarahkan agar negara ini dibangun dengan berpijak pada Piagam Madinah seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. KH Hasyim menegaskan bahwa piagam Madinah adalah sarana paling orisinil untuk demokrasi dan kemanusiaan.
“Piagam Madinah isinya sangat luar biasa,” ujar pengasuh pesantren al-Hikam Malang dan Depok yang menyampaikan hal ini pada acara Peringatan 90 Tahun Gontor di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, pada Sabtu, (3/9). [Ahmad Muhajir/DJ]



















