Badan PBB yang mengurusi tentang anak (UNICEF) menyebutkan, perang dan kemiskinan telah memaksa 50 juta anak di seluruh dunia lari dari rumah-rumah mereka.
Lebih dari 28 juta anak telah tercerabut akibat konflik kekerasan. Dan hampir sebanyak itu pula yang meninggalkan rumah-rumah mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Laporan bertajuk Uprooted: The Growing Crisis for Refugee and Migrant Children, itu juga menyebutkan jumlah pengungsi anak telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir, dari empat juta menjadi 8,2 juta.
UNICEF menggambarkan anak-anak sebagai orang yang paling rentan di bumi dan memberi peringatan bahwa jika pemerintah tidak bertindak, maka jumlahnya cenderung bertambah. Baik itu karena perang, kekerasan, kemiskinan atau perubahan iklim.
Laporan yang dipublikasikan Selasa (6/9) itu, mengatakan anak-anak yang jumlahnya mencapai sekitar sepertiga penduduk dunia pada 2015 itu, telah menyumbang hampir setengah dari jumlah pengungsi.
Berbicara di Jenewa, Direktur Program UNICEF, Ted Chaiban, mengatakan, “Yang penting adalah anak-anak ini harus diperlakukan sebagai anak-anak.β
“Mereka layak untuk dilindungi. Mereka membutuhkan akses ke layanan, seperti pendidikan.”
Menurut laporan itu, ada 10 juta pengungsi anak dan satu juta pencari suaka anak yang statusnya belum ditentukan.
Sisanya, 17 juta anak, terlantar akibat konflik di negara asal mereka.
Laporan itu mengatakan, 45 persen dari pengungsi anak-anak berasal dari dua negara: Suriah dan Afghanistan.
Pada tahun 2015, sebanyak 100 ribu anak mengajukan permohonan suaka di 78 negara. Jumlah ini tiga kali lipat jumlah pada tahun 2014.
Karena anak-anak ini sering tidak memiliki dokumen, mereka sangat rentan kejahatan.
Laporan tersebut memperkirakan, 20 juta anak adalah pendatang, βterusirβ dari rumah mereka karena kemiskinan dan kekerasan geng.
Pengungsi dan anak-anak migran menghadapi sejumlah risiko termasuk tenggelam saat menyeberangi laut, kekurangan gizi, dehidrasi, penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan.
Ketika tiba di negara lain, mereka sering menghadapi diskriminasi dan xenophobia, demikian laporan itu.
Laporan ini menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memberikan layanan perlindungan, pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak, dan meminta pemerintah untuk mengatasi akar penyebab terjadinya eksodus besar-besaran pengungsi dan migran. [Rusdiono Mukri]





















