Mesir, Gontornews — Universitas Al-Azhar, Kairo, pertama kali diresmikan pada tahun 975 M oleh Al-Muiz li Ad-Dinilah, penguasa Dinasti Fatimiyah. Tahun peresmian universitas ini, telah diakui sebagai waktu pertama kali berdirinya universitas di dunia.
Melanjutkan studi di negeri orang tampaknya sangat menyenangkan dan menantang. Layaknya para pelajar Indonesia di Mesir, yang setiap tahun selalu meningkat jumlahnya bahkan hingga mencapai sekitar 3000 pelajar putra dan putri yang pada umumnya menjadi mahasiswa Universitas Al-Azhar.
Meski ada universitas lain di Kairo, seperti Universitas Ainu Syams, Universitas Kairo (Jami’ah Al-Qahira), dan the American University juga universitas di luar Kairo, seperti Universitas Zagoziq, Universitas Almenia, dan lainnya, jarang sekali mahasiswa Indonesia yang tertarik belajar di luar Universitas Al-Azhar.
Sistem Perkuliahan Al-Azhar
Berbeda dengan sistem perkuliahan di universitas lain di dunia, yang umumnya mencampur pelajar putra dan putri dalam satu ruang kelas, di Universitas Al-Azar tidak demikian. Sebagai salah satu perguruan tinggi Islam tertua, terbesar, dan ternama, Universitas Al-Azhar Mesir memiliki kekhususan yang tetap dipelihara. “Para pelajar putra akan ditempatkan terpisah dengan kampus putri,” tutur Mira kepada Gontornes.com.
Kulliyatul Banin (Kuliah Putra) Al-Azhar berlokasi di Kota Husein dan merupakan tempat awal berdirinya Al-Azhar. Sedangkan Kulliyatul Banat (Kampus Putri) Al-Azhar tidak jauh dari komplek fakultas-fakultas umum (‘ilmi) Universitas Al-Azhar lainnya, yakni di kawasan Nasr City (timur Kairo) yang berjarak sekitar 7 km dari kampus putra. Namun, meski terpisah ruang, kedua perkuliahan ini masih tetap di bawah naungan Universitas Al-Azhar pusat di Husein.
Dalam sistem belajar mengajar, Universitas Al-Azhar masih menganut sistem salafi (sistem ceramah) dan system tingkat. Sistem ceramah berarti dosen memberikan ceramah kepada pelajar di kelas yang jumlahnya ratusan untuk kelas-kelas tertentu, bukan sistem kelas kecil dan dialogis.
Tidak ada sistem mahasiswa aktif sebagaimana dicanangkan di berbagai perguruan tinggi di dunia karena mahasiswa tidak wajib hadir dalam perkuliahan. Begitu pula dengan pembuatan makalah atau diskusi, meski ada namun sangat jarang sekali terjadi.
“Di Al-Azhar, mahasiswa tidak wajib hadir dalam perkuliahan. Sehingga tidak ada nilai kehadiran dan nilai ujian semua murni dari lembar jawaban di kertas ujian,” ujar Rudi kepada Gontornews.com.
Keadaan seperti ini mendorong sebagian besar pelajar Indonesia menganut sistem hafalan dan pemahaman demi mendalami setiap bidang studi yang akan diujikan. Karena bagi yang kuat dan tekun mendalami seluruh isi diktat yang telah ditandai masuk dalam batasan ujian, kemungkinan ia akan menjadi pelajar dengan lulusan istimewa.
Apalagi, ujian menjadi satu-satunya alat ukur kelulusan mahasiswa di sana. Dan nilai yang diberikan dosen –bisa dikatakan- 100% murni dari hasil ujian. Karena memang prosedur pengawasan ujian yang ketat serta tidak saling mengenalnya antara dosen dan mahasiswa.
Maksud sistem tingkat adalah kelulusan mahasiswa diukur berdasarkan tingkat, bukan jumlah satuan kredit semester (SKS). Maka, mahasiswa yang lulus seluruh mata kuliah di satu tingkat akan naik ke tingkat berikutnya, sementara mahasiswa yang gagal harus mengulang lagi di tingkat yang sama dan dengan mengambil mata kuliah yang sama pula.
Dengan catatan ada toleransi. Bahwa mahasiswa tetap naik ke tingkat berikutnya kalau hanya 2 mata kuliah yang tidak lulus, dengan syarat 2 mata kuliah tersebut harus diulang. Sementara mahasiswa yang gagal lebih dari 2 mata kuliah berarti harus mengulang seluruh mata kuliah yang ditempuhnya di tingkat yang sama pada tahun berikutnya.
Ragam Fakultas
Universitas Al-Azhar di Kairo mempunyai 14 fakultas untuk banân/mahasiswa, dan 7 fakultas ditambah satu jurusan untuk banât/mahasiswi. Masih banyak fakultas di cabang-cabang Al-Azhar yang terletak di beberapa kota sekitar Kairo, seperti al-Zagoziq, Tanta, al-Mansurat, dan Asyût.
Fakultas-fakultas untuk laki-laki di Kairo antara lain: (1) Ushuluddin, (2) Al-Syari’ah wa al-Qanun (Syari’ah dan Perundang-Undangan), (3) al-Lughah al-’Arabiyah (Bahasa Arab), (4) al-Dirâsât al-Islamiyah wa al-’Arabiyah (Studi Islam dan Arab), (5) al-Dakwah al-Islamiyah, (6) al-Tijârah (Ekonomi/Bisnis), (7) al-Tarbiyah (Ilmu Pendidikan), (8) al-Lughah wa al-Tarjamah (Bahasa dan Terjemah), (9) al-Tib (Kedokteran), dan masih banyak lagi
Kemudian di beberapa cabang Al-Azhar ada beberapa fakultas dan jurusan. Cabang-cabang yang dimaksud adalah Tanta, Mansurat, Zagoziq. Sementara dari sisi lokasi, Universitas Al-Azhar yang ada di Kairo terletak di dua tempat, yakni di Husein, sebagai kampus lama, dan di Maqtal Sadat (tempat pembunuhan Sadat) sebagai kampus baru.
Meskipun sama-sama Universitas Al-Azhar, kedua lokasi ini mempunyai perbedaan. Di kampus lama hanya ada fakultas agama, yang meliputi Fakultas al-Syari’ah wa al-Qanûn, Ushuluddin, dan Bahasa Arab (al-Lughah al-’Arabîyah).
Sementara di kampus baru, di samping ada al-Dirâsât al-Islamiyah wa al-’Arabiyah (Studi Islam dan Arab), al-Dakwah al-Islamiyah, dan al-Tarbiyah (Ilmu Pendidikan), sebagai fakultas agama, ada fakultas umum.
Fakultas Syari’ah dibagi menjadi dua jurusan, al-Syari’ah al-Islamiyah dan al-Syari’ah wa al-Qanun. Sementara Fakultas Ushuluddin meliputi empat jurusan, Tafsir, Hadits, Dakwah, dan Aqidah & Filsafat. Fakultas Bahasa Arab mempunyai 5 jurusan; jurusan umum, sejarah, budaya, publikasi/komunikasi & Iklan.
Adapun mahasiswa Indonesia, umumnya, kuliah di 2 fakultas yaitu Syari’ah dan Ushuluddin. Di dua fakultas inipun terbatas di jurusan Syari’ah Islamîyah untuk Fakultas Syari’ah, dan jurusan Tafsir dan Hadits untuk Fakultas Ushuluddin. Alasannya adalah karena di luar dua jurusan tersebut cenderung sulit bagi mahasiswa Indonesia, seperti jurusan Akidah Filsafat dan Bahasa Arab.
Rumah Pelajar
Pelajar Indonesia memiliki banyak pilihan tempat tinggal untuk dihuni di Mesir. Ada yang gratis (asrama pelajar) dan tidak (flat penduduk sipil). Di Mesir, pemerintah setempat banyak menyediakan asrama untuk pelajar dalam dan luar negeri seperti, asrama Al-Azhar, Muqattam, Babtain, Jam’iyah Syar’iyah, dan lainnya.
Mahasiswa yang tinggal di asrama, cenderung memilih untuk tinggal satu kamar dengan sesama pelajar Indonesia, meski juga bertetangga dengan mahasiswa internasional lainnya. Alasannya, karena budaya satu sama lain saling berbeda hingga beresiko terjadi ketidakcocokan.
Kondisi ini sedikit berbeda dengan kondisi mahasiswi atau mahasiswa yang tinggal di asrama Muqattam. Asrama di perbukitan Muqattam ini cenderung mengajak para penghuninya agar bisa berinteraksi lebih dalam kepada para sesama pelajar dari luar negeri seperti Al-Jazair, Somalia, Turki, Yaman, Syria, Yordania, dan masih banyak lagi. Alasannya, untuk memudahkan pelajar non-Arab dalam memperdalam bahasa Arab baik saat berinteraksi atau pun belajar.
Lain di asrama, lain pula di luar asrama. Mayoritas mahasiswa kita malah cenderung memilih untuk menyewa sebuah flat untuk dihuni bersama sesama pelajar Indonesia juga. Mereka yang sebagian besar para alumnus pondok pesantren, lebih senang hidup mandiri di luar asrama untuk mendapat suasana baru dan tidak terikat dengan peraturan asrama. <Edithya Miranti>






















