Beijing, Gontornews — Virus Korona di Cina telah menyebabkan industri jet pribadi terganggu. Padahal, permintaan fasilitas jet pribadi meningkat drastis menyusul diblokirnya penerbangan reguler dari dan menuju Cina.
Akibat penyebaran virus tersebut, maskapai penerbangan premium di terpaksa memotong sebagian besar jadwal penerbangannya. Sebut saja maskapai Asia Cathay Pascific Airways Ltd (Hongkong) dan Singapore Airlines LTd.
Konsultan penerbangan berbasis di Inggris, Ascend, mengatakan bahwa jumlah penerbangan dari dan menuju Cina turun hingga 23 Persen sepanjang 23 Januari hingga 11 Februari 2020.
Pemotongan jadwal penerbangan tersebut tentu saja bergantung pada proses evakuasi yang dilakukan oleh sejumlah negara. Umumnya, jet pribadi yang digunakan dapat membantu proses evakuasi kelompok masyarakat kecil serta dapat menghindari risiko terpapar virus tersebut.
Masa inkubasi 14 hari, larangan bepergian bagi warga Cina hingga khawtir tentang keselamatan awak jadi permasalahan operator jet pribadi.
βKali ini, operator dan negara telah memberlakukan pembatasan pada penggunaan jet pribadi ke negara-negara terdampak virus ini,β ungkap CEO Singapura MyJet Asia Pte Ltd, Logan Ravishkansar kepada Reuters.
βPara pemimpin bisnis takut dan bingung untuk masuk dan keluar dari Asia. Awak pesawat pun takut untuk terbang,β imbuh Ravishkansar.
Senada dengan Ravishkansar, Patrick Gallagher, dari maskapai jet pribadi NetJets Berkshir Hahaway Inc, juga terpaksa menangguhkan sejumlah perjalanan menuju Cina. βSementara kami menerima banyak permintaan dalam uptick, bukan berarti akan ada lebih banyak penerbangan (menuju Cina),β kata Gallagher.
Selama di atas pesawat, awak kabin mapun penumpang akan menggunakan masker yang mereka ganti setiap jam. Pun dengan awak medis yang telah tersedia dan menggunakan pelindung penuh. Setelah penerbangan, kru peswat akan mendapatkan cuti selama tiga minggu namun harus tetap berada di sekitar rumah.
Pun untuk melindungi penumpang dari penularan virus korona, penumpang diminta untuk menyiapkan makanannya sendiri ketimbang memakan sajian yang disiapkan pesawat.
βSelama penerbangan, gerakan dan interaksi penumpang akan dibatasi demi mengurangi risiko kemungkinan infeksi,β ungkap Direktur Eksekutif, PrivateFly, Adam Twidell.
Presiden JetSolution Aviation Group yang berbasis di Hong Kong, Jackie Wu, mengatakan bahwa perusahannya menerima permintaan penerbangan pribadi yang signifikan. Sebagian besar penumpang berangkat dari Hongkong atau Cina menuju Auckland, Taipei, Phnom Penh, Singapura hingga Kuala Lumpur.
Tetapi, perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan tersebut karena adanya larangan perjalanan yang dilakukan oleh Pemerintah Cina. [Mohamad Deny Irawan]






















