Adis Ababa, Gontornews — Senin, 21 Juni besok, rakyat Ethiopia akan menggelar pemilihan umum. Pemilu yang digelar di tengah konflik itu disambut apatis oleh sebagian rakyat Ethiopia.
Seorang Pegawai Negara Sipil di Ibukota Adis Ababa, Shimelis Yohannes (bukan nama asli), mengaku terpaksa mengikuti pemilu besok. Konflik yang melanda negaranya sejak delapan bulan lalu membuat dirinya tidak berharap banyak dengan pemilu tersebut.
βSaya tidak berpikir suara saya akan mengubah apa pun atau memutuskan arah masa depan Ethiopia, tetapi setidaknya saya dapat mengatakan pada diri sendiri bahwa saya mencoba yang terbaik,β katanya seperti yang dilansir Aljazeera.
Berbeda dengan itu, profesional sektor swasta, Bruk Gemechu (bukan nama asli), justru mengaku akan abstain dalam pemilu besok.
Ia mengatakan wilayah tempat tinggalnya di Oromia, yang merupakan kota terbesar di Ethiopia, tidak memiliki partai oposisi yang kredibel untuk bersaing dengan Partai Kemakmuran (PP) partai Perdana Menteri Abiy Ahmed dan sebelumnya dua partai politik etnis Oromo yang paling populer Front Pembebasan Oromo (OLF) dan Oromo Kongres Federalis (OFC) yang memutuskan untuk memboikot jajak pendapat namun gagal.
Bahkan pemimpin dan anggota partai itu berada di balik jeruji besi dan sebagian anggota lainnya justru menjadi sasaran kekerasan fisik.
βPara kader PP lokal telah memaksa sebagian masyarakat yang rentan untuk mengeluarkan kartu pendaftaran pemilih dan mengancam mereka dengan hukuman jika mereka memilih beberapa kandidat dari partai oposisi lainnya,β tuduh Gemechu.
Sementara itu, seorang Analis di Addis Ababa, yang tidak mau disebutkan namanya menjelaskan, suasana politik di Ethiopia terlihat dibebankan. Selain berlangsung di tengah meningkatnya kasus Covid-19, pemilu juga berlangsung di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk serta konflik yang belum terselesaikan.
βMiliter Ethiopia yang seharusnya ditugaskan untuk mengangkut bahan-bahan pemilu justru terlibat dalam konflik Tigray serta memerangi pemberontakan yang membara di berbagai bagian negara bagian Oromia dan Benishangul-Gumuz,β kata analis itu.
Lantaran adanya masalah keamanan tersebut serta minimnya jumlah logistik, Dewan Pemilihan Nasional Ethiopia (NEBE) mengungkapkan awal bulan ini pemungutan suara tidak akan dilakukan di hampir seperlima dari 547 daerah pemilihan Ethiopia.
Pemungutan suara di daerah pemilihan yang tidak berpartisipasi pekan depan akan dilanjutkan pada 6 September. Namun untuk Tigray (wilayah konflik) dengan 38 kursi akan dikecualikan untuk pemilu saat ini. [Devi]





















