Istanbul, Gontornews — Jutaan warga Turki menghabiskan waktu libur hari Ahad di bawah penguncian untuk terakhir kalinya ketika negara itu bersiap untuk menghapus semua jam malam pekan ini mulai 1 Juli di tengah penurunan kasus virus dan jalur cepat vaksinasi.
Setelah lonjakan infeksi COVID-19, yang mencapai rekor tertinggi, melayang di atas 60.000 pada bulan April, pemerintah Turki memberlakukan penguncian nasional antara 29 April sampai 17 Mei untuk mengendalikan pandemi.
Hurriyetdailynews.com merilis, ketika infeksi harian mulai menurun, Turki pindah ke fase normalisasi bertahap setelah 17 Mei.
Saat ini, jam malam berlaku mulai pukul 10 malam hingga pukul 5 pagi pada hari kerja dan Sabtu dan semua kota berada di bawah penguncian penuh pada hari Ahad. Tetapi semua pembatasan itu akan dihapuskan. Begitu juga pembatasan perjalanan antarkota dan transportasi umum mulai 1 Juli.
Fase normalisasi telah disertai dengan vaksinasi cepat. Pada bulan Juni saja, negara tersebut memberikan lebih dari 16,4 juta dosis vaksin virus corona, dengan jumlah total suntikan yang diberikan sejak dimulainya upaya inokulasi yang diluncurkan pada pertengahan Januari telah melampaui 47 juta.
Dalam bulan Juni, Turki secara bertahap menurunkan usia kelayakan vaksin dari 50 tahun menjadi 18 tahun dan warga Turki menyambut antusias program vaksinasi itu. Lebih dari 1 juta dosis suntikan telah diberikan setiap hari sejak 16 Juni dengan rekor 1,5 juta vaksinasi pada 21 Juni.
Menurut data Kementerian Kesehatan Turki, hingga saat ini, lebih dari 32 juta orang telah menerima suntikan pertama COVID-19, sementara hampir 15 juta orang telah divaksinasi lengkap.
Turki akan menghapus aturan wajib masker pada bulan September jika cukup banyak orang yang divaksinasi, kata Menteri Kesehatan Fahrettin Koca dalam sambutannya awal bulan ini.
Pihak berwenang bertujuan untuk memvaksinasi 55 juta orang dengan setidaknya satu suntikan pada pertengahan Juli. Sementara itu jumlah populasi Turki sekitar 84 juta.
COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 5,4 juta orang dan menewaskan lebih dari 49.000 pasien di Turki. []






















