Jenewa, Gontornews — Badan kesehatan dunia, WHO, Kamis (09/02/2023), mengatakan Afrika mengalami peningkatan kasus kolera secara eksponensial. Pada bulan Januari 2023, jumlah kasus kolera di seluruh Benua Afrika meningkat 30 persen lebih tinggi berbanding perhitungan serupa tahun lalu.
Secara keseluruhan, ada 10 negara di Afrika yang mengonfirmasi kasus kolera. Penyakit kolera yang menular melalui air telah memiliki gejala seperti diare berair akut dan dapat mematikan ini dapat dengan mudah diobati.
Selain Malawi, kasus kolera juga dilaporkan beberapa negara tetangga seperti Mozambik, Zambia, Burundi, Republik Demokratik Kongo dan Nigeria. Sementara itu, negara-negara seperti Ethiopia, Kenya, Somalia juga menghadapi wabah kolera dalam situasi kekeringan bersejarah di wilayah Afrika sebelah utara.
“Kami menyaksikan skenario yang mengkhawatirkan karen akonflik dan perubahan iklim ekstrem yang memperburuk pemicu kolera serta meningkatkan jumlah korban jiwa,” ungkap Direktur WHO untuk regional Afrika, Dr Matshidiso Moeti.
Per 29 Januari 2023, WHO memperkirakan ada 26.000 kasus dan 660 kematian akibat penyakit kolera dari laporan masuk dari 10 negara Afrika. WHO memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, penambahan kasus dapat melampaui catatan wabah kolera terburuk Afrika pada tahun 2021.
“Sangat penting bagi negara-negara Afrika untuk meningkatkan kesiapan mereka dalam mendeteksi kasus dengan cepat dan meningkatkan respons yang komprehensif dan tepat waktu,” ucap Moeti sebagaimana dilansir UN News.
WHO menambahkan, rasio fatalitas kasus kolera mencapa hampir tiga persen, yakni 2,3 persen pada tahun 2022. Angka ini lebih tinggi dari tingkat fatalitas yang dapat diterima yaitu di bawah satu persen. [Mohamad Deny Irawan]



















