Keheningan pagi Pulau Pari pecah ketika seorang marbot mushola membangunkan warganya untuk bersiap menunaikan ibadah shalat Shubuh berjamaah. “Banguuun…banguuun…shubuuh…shubuuuh…shalaat…shalaat…” demikian marbot memanggil.
Keluarga besar Majalah Gontor yang pada Selasa, 21 November 2017, sudah bermalam di pulau indah ini pun bergegas bangun menuju mushola terdekat untuk mendirikan shalat Shubuh berjamaah. Suasana mengingatkan saat berada di Pondok Gontor.
Pulau Pari yang memiliki luas 41.32 Ha ini memiliki jumlah penduduk sekitar 900an jiwa. Pulau Pari memiliki fasilitas tempat ibadah Masjid Al-Ikhlas dan dua mushola. Sedangkan tempat ibadah lainnya tidak ada karena penduduknya beragama Islam semua.
Setelah menunakan ibadah shalat Shubuh berjamaah, seluruh kru duduk sambil menikmati hangatnya teh manis di tepi pantai. Bukan sekadar nongkrong menunggu matahari terbit, para kru juga mendengarkan siraman ruhani yang disampaikan oleh Ustadz Adnin Armas dengan tema seputar ‘Jaman Now’.
Beberapa agenda acara telah disipakan oleh panitia untuk menjadikan wisata bahari semakin berkesan. Diantaranya adalah naik perahu ke area terumbu karang, tujuannya untuk snorkling melihat ikan hias dan pemandangan bawah laut. Subhanallah, luar biasa indah kehidupan di pantai Pari.
Wisata bahari kali ini cukup memberikan kesan mendalam, meski di bawah terik berenang dan mandi di pantai, namun kebersamaan menyelam di area terumbu karang menjadikan tak terasa panas.
Tak puas dengan wisata bawah laut Pulau Pari, kru Majalah Gontor juga menikmati panorama pantai pasir perawan yang menjadi icon utama dalam wisata pulau pari. Pantai pasir putih dan alamnya sangat natural. Pepohonan disekitarnya juga nampak rindang dan alami hal ini sering dimanfaatkan para wisata untuk melihat sunrise.
Beberapa bangunan non permanen juga didirikan disana untuk berteduh dan bersantai. Hampir semua pengunjung akan berkumpul disini terutama pagi dan sore hari. Selain terdapat pantai dengan pasir putih, juga terdapat gugusan lagoon beserta rindangnya vegetasi mangrove.
Selain bisa melihat pemandangan indah, tak jauh dari bibir pantai terdapat olehraga bolavoli yang bisa dijadikan sarana olahraga dan memupuk kebersamaan. Sebagian kru pun akhirnya larut dalam pukulan bola meski di bawah terik.
Destinasi Pulau Pari juga menyajikan beragam tempat wisata. Selain snorkling, pantai perawan juga ada pantai bintang yang terletak di sisi barat pulau. Untuk menjangkau pantai bintang rombongan konvoi bersepeda sejauh sekitar 1 kilometer. Jalanan yang rapi dan masuk ke area rimbun pepohonan seolah masuk kawasan hutan lebat.
Pantai bintang menyajikan view hewan bintang laut yang bisa ditemui di bibir pantai. Kendati bisa diambil hewan bintang laut, hewan ini tidak boleh dibawa pulang untuk menghindari kepunahan.
Selain pantai bintang juga ada pantai LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Selama ini, Pulau Pari memang dijadikan salah satu pusat penelitian oceanografi Indonesia, di sini dilakukan pemeliharaan dan penelitian tentang biota dan tanaman laut. LIPI mengajak masyarakat Kepulauan Seribu menanam 1.000 pohon mangrove dalam kegiatan Youth Green Act: A Thousand Mangrove For Earth di Pulau Pari pada peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2016 lalu.
Untuk mencapai pulau pari wisatawan bisa menggunakan kapal feri tradisional (kapal ojek) dari Muara Angke dengan waktu tempuh 1,5 – 2 jam. Harga tiket kapal ini relatif murah sehingga banyak wisatawan yang menggunakan transportasi ini untuk berkunjung kesana.
Jika mau lebih cepat, bisa menggunakan kapal speedboat dari Marina Ancol, waktu tempuh antara 45 menit – 1 jam perjalanan. Tiket kapal speedboat ini memang jauh lebih mahal dibanding dengan kapal ojek, tapi sebanding dengan kenyamanan yang didapat juga. Nah tinggal kita mau pilih yang mana untuk trasportasinya yang penting bisa menikmati liburan dan suasana wisata Pulau Pari. [fathurroji]





















