Jenewa, Gontornews — Badan Meteorologi Dunia (WMO), Senin (17/07/2023), mengatakan rekor suhu baru tercatat saat gelombang panas terjadi di Amerika Serikat bagian selatan, Mediterania, Afrika Utara, Timur Tengah dan sejumlah negara Asia. WMO bahkan menyampaian beberapa negara berpeluang dapat memecahkan rekor suhu nasional.
Badan suhu PBB itu juga memperkirakan peningkatan suhu di beberapa bagian Mediterania, Yunani dan Turki pada pertengahan pekan ini.
“Jika ada catatan suhu ekstrem baru selama gelombang panas yang sedang berlangsung, kami akan mengeluarkan penilaian awal cepat dan memulai evaluasi terperinci sebagai bagian dari proses verifikasi kami yang telaten,” ungkap pejabat Cuaca dan iklim ekstrem WMO, Randall Cerveny.
“Perubahan iklim dan kenaikan suhu telah memicu lonjakan laporan rekor cuaca dan iklim ekstrem, terutama suhu panas. Kita harus memastikan bahwa catatan-catatan ini diverifikasi demi pemahaman dan akurasi ilmiah,” sambungnya sebagaimana dilansir Anadolu.
Dalam catatan arsip cuaca dan ilim ekstrem WMO, suhu terpanas pernah tercatat di Furnace Creek, Death Valley, California pada 10 Juli 1913 yang mencapai 56,7 derajat Celcius.
WMO sendiri memvalidasi dua pengukuran suhu 54,4 derajat Celicus yang diambil di Death Valley pada 16 Agustus 2020 dan 9 Juli 2021. Jika demikian, maka situasi tersebut akan menjadi suhu terpanas di Bumi sejak 1931 dan menjadi yang terhangat ketiga dalam sejarah cuaca dunia.
“Baik sensor 2020 dan 2021 di Death Valley harus dibongkar dan dikirim ke laboratorium kalibrasi pengujian independen. Salah satu pengajuan telah selesai dan kami sedang menunggu yang kedua,” jelas Cerveny.
Sementara itu, rekor suhu di Eropa masih ‘dipegang’ oleh Sisilia dengan 48,8 derajat Celcius yang terjadi pada 11 Agustus 2021. WMO pun memprediksi rekor suhu tinggi ini akan pecah dalam beberapa hari mendatang karena gelombnag panas semakin meningkat. [Mohamad Deny Irawan]





















