Amman, Gontornews — Kementerian Luar Negeri Yordania keberatan dengan meningkatnya jumlah non-Muslim yang memasuki Masjid Al-Aqsa saat berada di bawah perlindungan keamanan Israel. Demikian diwartakan Arabnews.com.
Dalam pernyataan yang tegas, juru bicara kementerian Deifallah Al-Fayez pada hari Kamis (1/4) menuduh Israel melanggar status quo sejarah dan hukum masjid dan mengabaikan komitmennya “sebagai penjajah Yerusalem Timur.”
Al-Fayez mengatakan bahwa Masjid Al-Haram Al-Sharif (Al-Aqsha) merupakan tempat suci bagi umat Islam.
“Wakaf Yerusalem dan departemen urusan Al-Aqsha adalah bagian dari hak eksklusif pemerintah Yordania untuk menjalankan dan mengatur semua masalah yang terkait dengan tempat suci, termasuk pengaturan masuk ke situs tersebut sesuai dengan hukum internasional dan status quo bersejarah,” kata Al-Fayez.
Raja Yordania Abdullah dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setuju pada tahun 2014 bahwa Masjid Al-Aqsha merupakan tempat shalat bagi umat Islam dan untuk dikunjungi semua orang.
Namun, Israel menolak untuk mengakui tanggung jawab wakaf Yordania dan bersikeras memasuki masjid secara paksa menggunakan gerbang Moghrabi, satu-satunya gerbang ke situs suci Muslim yang tidak memiliki penjaga wakaf. Semua gerbang lainnya memiliki penjaga gabungan: polisi Israel dan penjaga wakaf.
Sumber wakaf mengatakan kepada Arab News bahwa dalam sepekan terakhir jumlah radikal Israel yang secara sepihak memasuki masjid telah meningkat.
Kesepakatan 13 November 2014 yang dicapai di hadapan Menteri Luar Negeri AS John Kerry termasuk ketentuan bahwa pengunjung dalam kelompok yang tidak lebih dari 15 oraang dapat mengunjungi masjid di luar waktu-waktu shalat.
Kesepakatan tersebut juga menetapkan bahwa pengunjung bukan orang yang “berkunjung berulang-ulang” dan tidak boleh termasuk kelompok radikal yang menyerukan penghancuran masjid dan menggantinya dengan kuil Yahudi.
Peningkatan jumlah pengunjung saat ini disebabkan oleh liburan Paskah Yahudi dan pelonggaran pembatasan virus corona di Israel.
Dalam surat protes tersebut, Kementerian Luar Negeri Yordania meminta masyarakat internasional untuk menekan Israel agar menghormati status quo bersejarah kompleks Masjid Al-Aqsha.[]






















