Tahun 1918, Pondok Gontor kehilangan sosok pejuang dalam pendidikan Islam. Adalah Kiai Santoso Anom Besari meninggal dunia di usia muda. Saat itu, kondisi Pondok Gontor dalam keadaan mundur dan belum memiliki generasi penerus untuk mengembangkang pondok di tanah perdikan ini.
Sang istri, Nyai Santoso benar-benar mendapatkan ujian dari Allah atas perginya sang suami tercinta. Bayangkan, ia harus menggantikan peran suaminya. Membesarkan tujuh anak, belum lagi mengurus santri yang tersisa saat itu.
Pondok Gontor kian redup dari hiruk pikuk anak-anak yang belajar agama. Sepeninggal Kiai Santoso, para santri banyak yang keluar dan tidak nyantri lagi. Para santri kehilangan figur sosok pemimpin.
Perginya Kiai Santoso ternyata berimbas pada kebiasaan masyarakat Gontor. Dulu mereka taat agama, berangsur mereka kembali terpuruk dengan kebiasaan lama yaitu mencuri, main perempuan, mabuk ditambah tradisi gemblakan di kalangan para warok.
Nyai Santoso terus berupaya agar kelak ia tidak melihat Gontor Lama pupus dan lenyap di telan sejarah. Ia optimis bahwa pondok bisa bangkit melalui keturunannya. Nyai Santoso merasa bertanggungjawab untuk membangkitkan kembali pondok yang pernah menjadi primadona waktu itu.
Kesedihan Nyai Santoso sedikiti terobati ketika putra pertama R. Rahmat Soekarto terpilih menjadi Kepala Desa Gontor. Namun ia belum puas sebelum Pondok Gontor kembali bersinar seperti sebelumnya.
Akhirnya pada suatu malam Nyai Santoso bermimpi melihat seekor ayam betina dan tiga ekor anak ayam di dalam masjid di sebelah rumahnya. Tiba-tiba dalam mimpi itu ada pesan agar menjaga dan memelihara tiga ayam tersebut. Dalam mimpi ini, Nyai Santoso hanya berfirasat pada tiga putranya Ahmad Sahal, Zainudin Fanani dan Imam Zarkasyi.
Nyai Santoso terus berdoa agar ketiga putranya kelak menjadi penerus yang bisa dibanggakan. Nyai Santoso terus menjalani tirakat, puasa Senin Kamis, dan selalu berzikir. Ia juga kerap berada di masjid dekat rumahnya untuk bermunajat kepada Allah.
Suatu hari, kakak iparnya, Raden Imam Anompuro yang juga penghulu di Ponorogo memanggil dirinya bersama ketiga putranya. Ia pun silaturahim ke kakaknya. Lalu kakaknya memanggil satu persatu putra Nyai Santoso ke sebuah kamar untuk menanyakan kepada ketiganya.
Setelah prosesi selesai, lalu Anompuro menyerahkan kepada Nyai Santoso ketiga putranya. Sembari menyerahkan, Anompuro berpesan bahwa anaknya tidak ada yang kuat, lalu ia menyerahkan tiga putra Nyai Santoso. Peristiwa ini menjadi simbol pemberian restu dari generasi tua ke generasi muda untuk melanjutkan perjuangan nenek moyang mereka.
Akhirnya Nyai Santoso mendidik ketiga putranya ini dengan tekun. Ketiganya akhirnya dipondokkan ke berbagai pesantren dan lembaga pendidikan untuk memperdalam ilmu agama. Sementara putra pertama yang menjadi kepala desa dikenal sebagai sosok sakti dan selalu melindungi keluarga dari marabahaya.
Namun sayang, Nyai Santoso tidak bisa melihat ketiga putranya membangun kembali Pondok Gontor. Ketiga putranya yang kelak dijuluki Trimurti ini selalu berwasiat kepada ketiganya untuk kembali menghidupkan Gontor. Wasiat inilah yang kemudian membuat Trimurti sukses membangkitkan kembali Gontor Lama.
Suatu hari, Nyai Santoso mengumpulkan anak-anaknya. Ia berpesan kepada Trimurti agar mereka selalu rukun dan damai dan meminta mereka belajar dengan sungguh-sungguh, “Dari pada mempunyai harta, lebih baik mempunyai ilmu, Nak. Percuma memakai baju bagus bisa tidak berilmu,” pesan Nyai Santoso.
Tak lama kemudian, Nyai Santoso wafat dengan penuh ketenangan. Trimurti yang masih belum cukup umur untuk berdiri sendiri hanya bisa mengikhlaskan kepergian sang ibu. Mereka harus hidup sebagai yatim piatu. Nyai Santoso yang mendidik putra-putranya sepeninggal suaminya kini telah tiada. Dialah ibu seribu guru.[fathurroji]





















