Islamabad, Gontornews — Pakistan perkuat penjagaan di wilayah yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Langah ini dlakukan menyusul beredarnya informasi yang mengabarkan bahwa pemerintah Amerika Serikat berniat untuk menarik sekitar 14.000 pasukannya dari Afghanistan pada tahun 2019 mendatang.
Langkah ini dikhawatirkan oleh sejumlah negara kawasan seperti Pakistan karena dapat menimbulkan masuknya para pengungsi dari Afghanistan yang masuk ke Pakistan. Karenanya, Pakistan telah memperketat penjagaan di wilayah perbatasan sepanjang 1.400 km serta mengerahkan sekitar 50.000 pasukan di sepanjang perbatasan.
“Kamp-kapm akan didirikan di dekat perbatasan untuk mengelola gelombang baru pengungsi Afghanistan, imigran ilegal dan warga Afghanistan yang tidak diizinkan untuk membangun rumah secara ilegal di wilayah Pakistan,” kata pejabat Pakistan yang enggan disebutkan namanya sebagaiamana dilansir Reuters.
Selain Pakistan, Afghanistan berbatasan langusng dengan Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan dan Cina. UNHCR (United Nations High Comissioner of Refugee), sebuah komisi PBB yang menangani urusan pengungsi, mengatakan jika pengungsi Afghanistan akan menjadi yang terbesar kedua di dunia.
Organisasi migrasi internasional (The International Organization for Migration/IOM) memperkirakan bahwa sekitar 1,4 juta warga Afghanistan tinggal tanpa identitas di Pakistan sedangkan 1,2 juta warga Afghanistan tidak beridentitas lainnya tinggal di Iran.
Iran sendiri telah mengusir ribuan warga Afghanistan yang tidak memiliki identitas menyusul pergolakan politik dan ekonomi di negara tersebut. Para pejabat Iran di Kabul bahkan menyampaikan kekhawatirannya dengan upaya penarikan 14.000 pasukan AS di Afghanistan karena dapaat meningkatkan tren pengungsi di wilayah sekitar kawasan Afghanistan tersebut.
Selain negara-negara tetangga, Turki juga menjadi negara tujuan pengungsi Afghanistan. Warga Afghanistan masuk ke Turki dari Iran dan bekerja sebagai gembala, petani atau pekerja bangunan. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang mencoba memasuki Eropa melalui Turki.
“Kami belum menutup pintu kami, tetapi jumlah imigran ilegal terus meningkat setiap hari,” ungkap Sekretaris Kedutaan Besar Turki di Afghanistan, Mehmet Ozgur Sak.
Turki sendiri berhasil mencegah sekitar 90.000 warga Afghanistan yang berusaha masuk ke negaranya melalui dokumen palsu atau penyelundupan manusia yang jumlahnya meningkat dua kali lipat pada tahun 2017.
Pasukan militan Taliban meminta kepada masyarakat Afghanistan agar tidak mengungsi ke negara-negara lain selama proses negosiasi berlangsung. Mereka juga menginstruksikan kepada warga agar tidak mengungsi meski pasukan AS ditarik dari Afghanistan. Akan tetapi, salah seorang masyarakat tidak mempercayai Taliban dan memilih untuk meninggalkan Afghanistan dimasa mendatang.
“Jika pasukan AS menarik diri, maka tidak ada harapan untuk masa depan dan kami harus menngglakan negara itu,” ungkap siswa dari provinsi Herat Barat yang menganggap Taliban merusak demokrasi karena berniat untuk menerapkan hukum Islam di Afghanistan. [Mohamad Deny Irawan]





















