Usia 32 tahun merupakan usia dewasa. Karenanya, Pondok Pesantren Darussalam Garut akan terus konsisten dalam mendidik anak bangsa serta mencetak generasi penerus kejayaan Islam dan bangsa Indonesia.
Ketika berita ini diturunkan, Pondok Pesantren Darussalam Garut (PPDG) tengah mempersiapkan segala kebutuhan peringatan 4 windu usia PPDG. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dan Direktur Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor Ustadz Masyhudi Shobari memastikan kehadirannya di pesantren yang terletak di Kampung Sindangsari, Kersamanah, Garut, itu.
Walau demikian, cikal bakal pendirian PPDG bukanlah seumur 4 windu melainkan telah berdiri sejak tahun 1915 atau 103 tahun yang lalu saat almarhum H Ahmad mendirikan pesantren yang kemudian dikelola oleh putranya, KH Ishaq Asy’ari.
Meski dalam suasana penjajahan, KH Ishaq Asy’ari tetap semangat untuk meneruskan wasiat ayahnya tersebut. Banyak santri datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu. Namun, pada tahun 1954, karena alasan keamanan, PPDG lama vakum dan KH Ishaq mengungsi ke Bandung hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Bandung pada tahun 1958.
Akan tetapi, semangat untuk terus mendidik umat tidak padam. Putra sulung KH Ishaq Asy’ari, KH Abdul Mu’thy bertekad untuk membangun kembali pesantren yang sempat jaya di masa kepemimpinan ayahnya tersebut. Qadarullah, pertemuan KH Abdul Mu’thy dengan salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH Zainuddin Fannani, di Jakarrta makin membulatkan tekadnya untuk membina dan membangun pesantren seperti halnya pesantren Gontor.
Pada tahun 1969, KH Abdul Mu’thy mulai mencanangkan kembali PPDG lama dengan mendirikan madrasah diniyah serta mengirimkan putranya untuk mondok di Pondok Modern Darussalam Gontor sambil ‘belajar’ sistem dan nilai-nilai kepondokmodernan di Gontor. Sembari menunggu proses kaderisasi tahap awal itu, KH Abdul Mu’thy menunjuk putra sulungnya H Abdul Majid sebagai kepala madrasah diniyah.
Sejak tahun 1972, nama Darussalam digunakan sebagai nama resmi Pondok Pesantren Darussalam Garut. Adalah putra KH Abdul Mu’thy, KH Ahmad Ghozali Mu’thie yang sowan menghadap Pimpinan PMDG kala itu, KH Imam Zarkasyi. Pak Zar, sapaan akrab KH Imam Zarkasyi, mengijazahkan penggunaan nama Darussalam sebagai nama resmi Pondok.
“Dinamai Darussalam atas restu KH Imam Zarkasyi pada tahun 1972. Ketika itu, para pendiri menghadap Pak Zar atas perintah orangtua KH Abdul Mu’thie untuk menamai pondok sama dengan Gontor dengan harapan berkembang dan maju seperti PMDG,” ungkap salah satu putra pendiri yang saat ini menjadi Pimpinan Pondok PPDG KH Asep Sholahuddin Mu’thie kepada Majalah Gontor.
Sejak saat itu, secara beruntun, KH Asep Sholahuddin Mu’thie kembali dari Gontor pada tahun 1978 dan pada pada tahun 1986, KH Cecep Ishaq Asy’ari Mu’thie kembali ke PPDG sepulangnya dari Gontor. Kurikulum Gontor pun mulai diterapkan di PPDG berikut dengan sistem dan nilai-nilai kedisiplinan.
Tepat tanggal 9 Desember 1986, mereka bertiga mendirikan Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah sebagai sistem pendidikan di PPDG. Pada tahun 1995, tepatnya pada 20 Mei 1995 PPDG Putri resmi didirikan untuk mengakomodasi permintaan masyarakat luas. Kala itu, Bupati Garut, H Thoharuddin Gani mendapatkan kesempatan untuk meresmikan PPDG kampus putri yang terletak tidak jauh dari PPDG kampus putra.
Selain H Thoharuddin Gani ada sejumlah tokoh yang berperan penting dalam perkembangan PPDG hingga saat ini seperti KH Abdul Majid sebagai Ketua Yayasan dan mediator antara pondok dan tokoh masyarakat serta pemerintah. Ada pula KH Abdullah Said Baharmus yang membantu penyediaan sarana dan prasarana pondok sekaligus mediator antara pondok dengan donatur dalam maupun luar negeri.
Selain itu, ada pula peran KH Saiful Azhar, pimpinan Pondok Pesantren Al-Basyariyah Bandung, yang berperan membantu pengembangan pondok serta memelopori pemberian wakaf tanah pondok. Selanjutnya ada pula H Soekiman sebagai penyedia tanah wakaf untuk pondok dan sarananya.
Sistem Mu’allimin
Pada tahun 2018, seluruh santri PPDG berjumlah 2.571 santri dan 315 guru. Mereka berasal dari sejumlah daerah di Indonesia. Namun, menurut penuturan staf Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI), Ervan Shofari Sholahuddin, ada beberapa santri yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura dan Selandia Baru.
Selain itu, para guru juga berlatar pendidikan beragam seperti TMI PPDG, KMI PMDG, UNIDA Gontor, serta perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. Tidak hanya itu, ada pula pengajar tahfidz dan bahasa Arab yang berasal dari Yaman sebagai bentuk bantuan dari Jam’iyyah Khairiyyah Indonesia, Kuwait.
Meski menginduk sistem, nilai dan kurikulum Gontor, PPDG tidak menamakan program kurikulumnya dengan Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) melainkan menamakan sistem pendidikannya dengan Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI) bukan karena membangkang atau bertentantang dengan sistem dan kurikulum Gontor tetapi pemilihan TMI sebagai bentuk ta’zīman dan pembeda antara pondok alumni Gontor dengan Gontor.
“Tidak ada yang berbeda antara TMI dan KMI. Keduanya hanya berbeda pada istilah saja,” jelas Kiai Asep Sholahuddin Mu’thie.
“Kulliyyah berarti persemaian dan tarbiyah berarti pendidikan. Maka pemahaman istilah yang kami gunakan saat ini yaitu TMI didasarkan pada tazīm dan pembeda antara pondok alumni dengan Gontor sebagai pondok induk,” tambahnya.
Di antara kekhasan PPDG dibanding pesantren yang lain adalah penambahan kurikulum pendidikan TMI dan program tahfidzul Qur’an bersanad. Khusus program tahfidz, PPDG mengundang hafidz/hafidzah asal Yaman untuk mengisi Dauroh Tahfidzul Qur’an selama 2 bulan.
Selain TMI, PPDG juga memiliki jenjang pendidikan lain seperti Pendidikan Anak Usia Dini/Raudhatul Athfal Darussalam, MDT Al-Wadul Muqoddas, SD Terpadu Darul Muqoddas, Pesantren Yatim Piatu Darul Aitam.
Selain visi dan misi (lihat Boks), PPDG memiliki empat orientasi pendidikan yakni kemasyarakatan, hidup sederhana, tidak berpartai (perekat umat dan berdiri di atas dan untuk semua golongan) dan ibadah Tholabul Ilmi.
Memasuki usianya yang ke-32, PPDG berharap bisa terus berkontribusi untuk mendidik santri dan masyarakat agar menjadi lembaga pendidikan pencetak kepribadian Muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmat kepada masyarakat, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.
“Idealnya pengembangan kepribadian yang ingin dituju ialah kepribadian muhsin, bukan sekedar Muslim,” paparnya.
Tidak hanya itu, PPDG juga berpesan kepada dunia pendidikan Islam agar menjadi benteng terakhir umat dan bangsa serta konsisten mencetak generasi penerus kejayaan Islam dan bangsa.
“Tetap Istiqamah dalam mencetak generasi penerus kejayaan Islam dan bangsa tanpa terpengaruh oleh serangan-serangan budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan budaya Indonesia,” pungkas Kiai Asep Sholahuddin. n Mohamad Deny Irawan
Boks
Visi Misi Pondok Pesantren Darussalam Garut
Pondok Pesantren Darussalam mempunyai visi sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang mencetak kader-kader pemimpin umat, menjadi tempat ibadah, serta menjadi sumber ilmu pendidikan Islam, bahasa Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan umum dengan tetap berjiwa pesantren.
Sedangkan misinya yaitu:
- Mempersiapkan generasi yang unggul dan berkualitas menuju terbentuknya khairu ummah.
- Mendidik dan mengembangkan generasi Mukmin-Muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berfikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
- Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek.
- Mempersiapkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.






















