Phnom Penh, Gontornews – Sedikitnya 13 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka setelah bangunan yang merupakan proyek milik Cina runtuh di Provinsi Sihanoukville, Kamboja, Sabtu (22/6) kemarin.
Menurut Juru Bicara provinsi setempat, Oar Saroeun, bangunan setinggi 7 lantai itu tiba-tiba roboh dan menewaskan sebagian pekerjanya. Mereka tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang berupa batu dan baja.
“Struktur baja telah runtuh dengan sendirinya dan kami tidak berani memindahkannya,” jelasnya seperti dikutip Reuters.
Ia juga mengatakan jika banyak para pekerja yang masih belum ditemukan dan khawatir jika korban akan terus bertambah.
“Kami takut akan lebih banyak reruntuhan yang akan menimpah mereka, hingga malam hari kami terus bekerja untuk melepas baja,” tambahnya.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh pejabat Provinsi Preah Sihanouk mengatakan bahwa sebanyak 36 pekerja telah diselamatkan dari puing-puing. Namun belum diketahui berapa banyak lagi pekerja yang masih tertimbun di dalam.
Foto-foto yang beredar di media sosial menggambarkan pemandangan kelompok penyelamat bekerja mengangkat tumpukan balok baja dan beton yang hancur.
Provinsi Preah Sihanouk dan kota terbesarnya, Sihanoukville, telah mengalami lonjakan investasi dalam beberapa tahun terakhir dari Tiongkok, terutama ke sektor kasino, properti, dan pariwisata.
Provinsi itu merupakan wilayah yang menjadi pelabuhan terbesar di Kamboja dan Zona Ekonomi Khusus Tiongkok yang terhubung dengan inisiatif Sabuk dan Jalan Beijing. Selain itu, kota itu juga mengalami pembangunan konstruksi untuk melayani kerumunan wisatawan dan investor Tiongkok yang sedang tumbuh.
Pernyataan tersebut juga menjelaskan, sampai saat ini, Polisi telah menahan empat orang, termasuk tiga pengawas konstruksi, untuk diinterogasi mengenai kecelakaan tersebut.[Devi Lusianawati]




















