Kairo, Gontornews — Lebih dari 100 migran yang menuju Eropa dikhawatirkan tewas bersama perahu karet yang terbalik di lepas pantai Libya, kata kelompok penyelamat independen.
Organisasi kemanusiaan menuduh penjaga pantai Libya dan otoritas Eropa gagal memenuhi tanggung jawab mereka untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Seorang pejabat penjaga pantai Libya mengatakan kepada The Associated Press bahwa mereka mencari kapal itu tetapi tidak dapat menemukannya karena sumberdaya yang terbatas.
SOS Mediterranee, yang mengoperasikan kapal penyelamat Ocean Viking, Kamis (22/4) malam mengatakan bahwa perahu karet terbalik, yang awalnya membawa sekitar 130 orang, terlihat di Laut Mediterania di timur laut ibukota Libya, Tripoli.
Kapal bantuan tidak menemukan satu pun yang selamat, tetapi setidaknya sepuluh mayat terlihat di dekat bangkai kapal.
“Kami memikirkan nyawa yang telah hilang dan keluarga yang mungkin tidak pernah mengetahui tentang apa yang terjadi pada orang yang mereka cintai,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Lalu lintas migran telah menimbulkan pertanyaan di antara negara-negara Uni Eropa dan Libya tentang siapa yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan mereka yang berada di laut.
Organisasi kemanusiaan Eropa mengatakan bahwa mereka yang hilang kemungkinan tewas menyusul 350 orang yang tenggelam di laut sepanjang tahun ini. Mereka menuduh pemerintah gagal membantu operasi pencarian dan penyelamatan.
Pada tahun-tahun sejak pemberontakan yang didukung NATO tahun 2011 yang menggulingkan dan menewaskan Muammar Qaddafi, Libya yang dilanda perang telah muncul sebagai titik transit dominan bagi para migran yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Afrika dan Timur Tengah. Penyelundup sering membawa keluarga-keluarga yang putus asa ke dalam perahu karet yang tidak memiliki peralatan lengkap di sepanjang rute Mediterania Tengah yang berbahaya.
βIni adalah konsekuensi kemanusiaan dari kebijakan yang gagal menegakkan hukum internasional dan kewajiban kemanusiaan yang paling dasar,β cuit Eugenio Ambrosi, Kepala Staf Organisasi Internasional untuk Migrasi.
Alarm Phone, hotline krisis untuk migran yang mengalami kesusahan di Mediterania, mengatakan bahwa kapal yang mengalami kesulitan tersebut telah melakukan kontak selama hampir sepuluh jam sebelum akhirnya terbalik.
Alarm Phone mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah memberi tahu otoritas Eropa dan Libya tentang posisi GPS kapal tetapi hanya kelompok LSM yang secara aktif mencarinya.
Alarm Phone menuduh pihak berwenang Eropa menolak untuk mengoordinasikan operasi pencarian, dan hanya menyerahkannya ke tangan Penjaga Pantai Libya.
Jurubicara Penjaga Pantai Libya, Masoud Ibrahim Masoud, menampik tuduhan bahwa pihaknya telah lalai. “Kami mengoordinasikan operasi pencarian,” katanya kepada The Associated Press sebagaimana dikutip Arabnews.com. Kapal-kapal pertolongan terus mencari korban di tengah laut yang ganas selama lebih dari 24 jam.
Masoud mengatakan, pada hari Rabu siang penjaga pantai Libya telah menerima dua peringatan penyelamatan dari dua perahu karet yang mengalami kesulitan di timur Tripoli. Sebuah kapal patroli segera diberangkatkan dan menyelamatkan 106 migran, termasuk perempuan dan anak-anak, yang berada di salah satu dari dua kapal tersebut. Dua mayat ditemukan di dekat perahu yang terbalik.
Dia mengatakan kapal yang sama terus mencari, tetapi terhalang jarak pandang dan laut yang bergejolak. Akhirnya kapal kembali ke pelabuhan sehingga migran yang selamat bisa mendapatkan perawatan medis.
Dalam beberapa tahun terakhir, Uni Eropa telah bermitra dengan penjaga pantai Libya dan kelompok lokal lainnya untuk membendung penyeberangan laut yang berbahaya tersebut. Namun, kelompok hak asasi mengatakan kebijakan itu membuat para migran bergantung pada kelompok bersenjata atau terkurung di pusat penahanan jorok yang penuh dengan pelanggaran.
“Kami tidak dilengkapi seperti penjaga pantai AS dan dukungan yang kami dapatkan dari UE tidak memenuhi kebutuhan kami,” kata Masoud. []





















