Pondok Modern Daarul Hikmah Pekayon, Sukadiri, Tangerang adalah pondoknya umat Islam. Pondoknya para dhuafa. Karena pondok ini tidak mematok harga untuk para santrinya.
Pondok Modern Daarul Hikmah (PMDH) Pekayon, Sukadiri, Tangerang merupakan balai pendidikan Islam bercorak pesantren di bawah naungan Yayasan Wakaf Bina Ummat yang didirikan oleh KH Afif Afify. PMDH resmi berdiri pada tanggal 25 April 1997 berdasarkan Akta Pendirian nomor 33 yang dicatatkan pada notaris Izzat Chanun Sukowijono SH.
Sang pendiri adalah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo tahun 1971 sekaligus Ketua II Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tangerang dan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Tangerang periode 2015-2020.
Pondok pesantren yang berlokasi di wilayah pesisir utara Kabupaten Tangerang ini dibangun di atas lahan tanah wakaf seluas sekitar 2 hektar. Di dalamnya diselenggarakan program pendidikan formal sekaligus dua tingkat, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Atas pada tanggal 14 Juli 1997. Pada tahun pertama berdiri, PMDH sudah dibanjiri peserta didik yang tercatat sekitar 80 murid tingkat MTs dan 40 tingkat SMA.
Awalnya karena keterbatasan ruang, PMDH menyelenggarakan pola pendidikan dual system. Artinya santri tidak wajib bermukim di asrama dan hanya mengikuti program pembelajaran formal dari pagi hingga sore. Namun sejak tahun 2009 sampai sekarang seluruh murid diwajibkan untuk tinggal di asrama dan mengikuti semua rutinitas Pondok.
PMDH memiliki visi “Mencetak kader umat yang berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas.” Sedangkan misi PMDH adalah “Bertaqwa kepada Allah SWT, hormat guru dan orangtua, serta gemar membaca dan cinta ilmu.”
Selain itu, dalam ajang reuni alumni putri Pondok Gontor, KH Afif pun menuturkan bahwa pondok ini adalah pondok HIJAU (Hidupkan Islam Jadilah Anda Ulama). “Kami tidak mematok harga seperti pondok-pondok unggulan lainnya. Karena kami ada untuk dhuafa,” terang sang kiai. Terlebih, lanjutnya, banyak santri yang orangtuanya hanya bekerja sebagai supir, kuli bangunan, dan masyarakat biasa.
Sistem KMI (Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyah) diambil PMDH untuk melaksanakan program pendidikan formal setingkat sekolah menengah. KMI sendiri bermakna persemaian guru-guru Islam. Diharapkan lembaga ini dapat melahirkan kader-kader umat yang berfungsi sebagai guru atau mundzir al-qaum.
Tenaga pendidik di PMDH adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan yang profesional di bidangnya. Mereka merupakan sarjana S1 dan S2 lulusan berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, baik dari dalam maupun luar negeri.
PMDH memiliki dua organisasi resmi, yakni Organisasi Santri Daarul Hikmah (OSDA) dan Koordinator Gerakan Pramuka Gugusdepan Pondok Modern Daarul Hikmah. Kedua organisasi tersebut bertanggung jawab langsung kepada pimpinan pondok dengan arahan dari bagian Pengasuhan Santri.
Ekstrakurikuler Pondok
Ada dua kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh santri PMDH. Pertama, muhadharah (latihan pidato) menggunakan Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Kedua, latihan pramuka.
Selain itu, berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler juga dapat dipilih para santri sesuai dengan minatnya masing-masing. Ekstrakurikuler pilihan terdiri dari marching band, seni musik marawis dan hadrah, pencak silat, futsal, basketball, kaligrafi, dan lainnya.
Namun mulai tahun ajaran 2017/2018 PMDH mengadakan program baru yaitu kelas tahfizh. Program ini dikhususkan bagi santri yang ingin fokus menghafal al-Qur’an.
Sistem pembelajarannya pun sedikit berbeda dengan kelas reguler. Pada kelas tahfizh kegiatan pembelajaran formal diadakan pada pukul 07:00-12:00 WIB saja. Sedangkan selepas Dzuhur sampai waktu Ashar tiba, santri di kelas tahfizh fokus untuk menghafalkan ayat-ayat suci al-Qur’an.
Keikutsertaan para santri dalam kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) bukan untuk gagah-gagahan atau sekedar mencari gelar juara. Namun lebih untuk memunculkan para kader umat berakhlak Qur’ani seperti Rasulullah SAW.
Tidak hanya itu, pada tanggal 1-3 Maret 2018, santri PMDH juga dilibatkan dalam kegiatan Pramuka yakni Perkwarri 2018 (Perkemahan Kwaran Sukadiri). Kontingen Gerakan Pramuka PMDH yang terpilih pun berhasil membawa pulang banyak piala dalam ajang tersebut.
Reuni Gontor Putri 2004
Sabtu (10/3) lalu, PMDH dipercaya sebagai tuan rumah dalam ajang silaturahim akbar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri lulusan tahun 2004.
Peserta yang hadir adalah alumni dari sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Karawang. Namun ada beberapa yang berasal dari daerah lain di Jawa.
“Para santri mereka semualah yang menjadi panitia dalam acara tersebut,” ujar Khoirul Bariyah, alumnus Gontor Putri tahun 2004. Mereka pula yang telah menyiapkan ruangan, membuat photo booth, performance band, mawaris, dan hadrah. “Bahkan sampai disediakan daycare juga,” tambahnya kepada Majalah Gontor.
Pada acara yang berlangsung pada pukul 10.00-16.00 WIB ini, pendiri PMDH KH Afif Afify sempat memberikan sambutan dan ia membahasakan dirinya sebagai ‘kakak seperguruan’. Sang kiai bahkan sampai menangis terharu saat perwakilan peserta reuni menyerahkan wakaf uang enam juta rupiah untuk PMDH.
“Kala itu, Kiai Afif sempat menangis terharu, padahal nominalnya kecil sekali,” terang Khoirul. Nominal itu dirasa tidak sepadan dengan semua fasilitas yang telah diterima para peserta reuni dari panitia setempat.
Namun, sang kiai yang akrab disapa Abi oleh para santrinya ini menegaskan, “Jangan menganggap kami merentalkan aula kami. Sehingga kalian harus membayar uang jasa.” In syaa Allah, lanjut Kiai, niat kami dari awal memang untuk wakaf pondok. Jadi dari awal para peserta membayar Rp 120.000 itu sudah termasuk untuk wakaf.
Pada reuni kali ini, marhalah tahun 2004, Les Jezure Van Zafera, juga turut berdonasi wakaf sumur senilai Rp 30.350.000 kepada kedua narasumber, Ustadz Achmad Nuril Mahyudin dan Ustadzah Azhimatul Nur Bashari Diyanti. Donasi tersebut diberikan dalam rangka program pemberdayaan masyarakat yang dikelola oleh keduanya. [Edithya Miranti]





















