Jika pemanasan global terus berlanjut dan gagal diredam, malapetaka besar terbentang. Sebuah kajian memprakirakan, lebih 25% wilayah bumi akan menjadi gurun sahara pada 2050.
Awal 2018, jurnal Nature Climate Change mempublikasi hasil studi tim dari Chinaβs Southern University of Science and Technology (CHUST). Jika pemanasan global terus berlangsung dan upaya peredaman emisi gas rumah kaca melalui Paris Agenda tidak ditaati oleh negara-negara anggota PBB, maka diperkirakan lebih dari 25 persen bumi akan mengalami kekeringan dan penggurunan yang serius akan terjadi pada tahun 2050.
Pemanasan Global
Studi ilmiah yang dipublikasikan Selasa (2/1/2018) memprakirakan, suhu tahunan rata-rata bumi akan meningkat 2 derajat Celcius (3,6 derajat Fahrenheit). Dalam 32 tahun ke depan, wilayah di dunia akan mengalami aridifikasi (pengeringan) dan desertifikasi (gurunisasi) akan meningkat.
“Penelitian kami memprediksi bahwa aridifikasi akan muncul pada sekitar 20 sampai 30 persen permukaan tanah dunia pada saat perubahan suhu rata-rata global mencapai 2 derajat Celsius,” kata Manoj Joshi, peneliti utama CHUST. Dia menambahkan, dua pertiga dari daerah yang terkena dampak aridifikasi dapat terhindar dari proses gurunisasi jika pemanasan global dapat ditekan hingga maksimal 1,5 derajat Celsius [2,7 derajat Fahrenheit].
Su-Jong Jeong, peserta studi doctoral ilmu lingkungan dari CHUST, percaya bahwa pencegahan dampak aridifikasi terletak pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Menurutnya, pasca revolusi industri, dunia telah menghangat 1 derajat Celcius [1,8 derajat Fahrenheit]. Proses industrialisasi yang semakin masif di banyak negara memungkinkan adanya potensi peningkatan suhu global hingga mencapai titik kritis.
Semua pihak, semua negara di dunia, terlebih negara contributor utama emisi GRK seperti Amerika, China dan Eropa, harus bekerja sama mencari solusi. ββKita semua harus mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer untuk menjaga pemanasan global agar tetap di bawah 1,5 β 2,0 derajat Celsius. Jika tidak, kemungkinan terjadinya aridifikasi yang signifikan tinggal menunggu waktu pasti terjadi di banyak bagian dunia.”
Paris Agenda
Sebenarnya, KTT Perubahan Iklim tahun 2015 telah menyepakati Paris Agenda. Hampir semua negara anggota PBB (195 negara) telah sepakat menandatanganinya. Tetapi, Pemerintah AS di bawah kendali Donald Trump kemudian menarik diri dan mengingkari kesepakatan dengan dalih melindungi kepetingan industri nasonalnya,
Pada bulan Juni 2017, Presiden Donald Trump mengumumkan rencananya untuk menarik diri dari keterlibatan AS dalam Paris Agenda. Fakta kesepakatan lingkungan yang tekah ditandatangani Pemerintahan Obama, dinilai Trump akan “melemahkan ekonomi kita” dan menempatkan Amerika Serikat “pada kerugian permanen”. Dia juga menyangsikan kebenaran ilmiah yang melandasi lahirnya kesepatan negara-negara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca tersebut.
Trump sering mengungkapkan ketidakpercayaannya pada logika dan simulasi perubahan iklim global. Beberapa kali di mempertanyakan konsensus ilmiah yang luar biasa tentang bahaya pemanasan global bagi planet dan kemanusiaan.
Pada Desember 2017, presiden eksentrik itu telah menghapus perubahan iklim dari daftar ancaman keamanan nasional AS. Beberapa hari kemudian, menjelang tahun baru, dia men-tweet, “Di Timur, ini bisa menjadi malam tahun baru terdingin di dunia. Mungkin kita bisa menggunakan sedikit Pemanasan Global untuk menghangatkan negara kita. Sementara negara-negara lain perlu membayar trilyunan dolar untuk melindunginya dri cekaman panas pemanasan global. Nikmatilah! ”
Menurut perhitungan para ahli studi perubahan iklim, daerah yang paling banyak terpengaruh oleh kenaikan suhu rata-rata global adalah kawasan di Amerika Tengah, Asia Tenggara, Eropa Selatan, Afrika Selatan dan Australia Selatan.
Model Iklim IPCC
Selama selama seratus tahun terakhir, menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu rata-rata global bumi meningkat 0.74 Β± 0.18 Β°C (1.33 Β± 0.32 Β°F). Sebagian besar peningkatan suhu mulai pertengahan abad ke-20. Penyebanya adalah meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, melalui industri, produksi dan manufaktur.
Kesimpulan dasar telah disepakati oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan IPCC tersebut.
Model iklim IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 Β°C (2.0 hingga 11.5 Β°F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan perkiraan disebabkan oleh perbedaan skenario emisi GRK dan model sensitivitas iklim.
Pemanasan global akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi (curah hujan). Pemanasan global juga berdampak pada hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Gurun dan Padang Pasir
Dalam istilah geografi, gurun, padang gurun atau padang pasir adalah suatu daerah yang menerima sedikit curah hujan, kurang dari 250 mm per tahun. Gurun memiliki kemampuan kecil untuk mendukung kehidupan. Bentang gurun memiliki beberapa ciri umum. Gurun sebagian besar terdiri dari permukaan batu karang dan bukit pasir.
Gurun kadang memiliki kandungan cadangan mineral berharga yang terbentuk akibat lingkungan kering atau terpapar oleh erosi. Keringnya wilayah gurun menjadikannya tempat yang ideal untuk pengawetan benda-benda peninggalan sejarah serta fosil. Air tanah di gurun cenderung asin karena larutan garam dalam tanah cenderung sulit berpindah melalui pencucian oleh air maupun drainase
Persebaran bioma gurun banyak terdapat di wilayah benua Afrika Utara (Sahara) , Amerika Utara (Great Basin), Austalia (Gibson), Asia (Takla Makan), dan Indonesia (Parangtritis). Awasan gurun umumnya memiliki lingkungan biotik yang khas. Dunia flora biasanya berupa tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan yang kering (xerofit) seperti kaktus, pohon korma, dan zaitun. Sedang faunanya berupa hewan besar yang mampu menyimpa air seperti unta, sedangkan hewan kecil hanya aktif pada pagi dan malam hari, di mana pada siang harinya bersembunyi di lubang-lubang seperti ular, tikus, kadal, dan serangga.
Tanaman dan hewan yang tinggal di padang pasir membutuhkan adaptasi khusus untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras. Tanaman cenderung keras dan kurus dengan daun kecil atau tidak ada, kutikula tahan air dan seringkali duri untuk menghalangi herbivora. Beberapa tanaman tahunan berkecambah, mekar dan mati dalam perjalanan beberapa minggu setelah curah hujan sementara tanaman berumur panjang lainnya bertahan selama bertahun-tahun dan memiliki sistem akar yang dalam yang mampu menyerap kelembaban bawah tanah.
Hewan perlu tetap tenang dan menemukan cukup makanan dan air untuk bertahan hidup. Banyak yang nokturnal dan tinggal di bawah naungan atau di bawah tanah selama musim panas. Mereka cenderung efisien dalam melestarikan air, mengambil sebagian besar kebutuhan mereka dari makanan mereka dan memusatkan urin mereka. Beberapa hewan tetap dalam keadaan dormansi dalam waktu lama, siap untuk menjadi aktif kembali saat hujan yang jarang turun. Mereka kemudian bereproduksi dengan cepat saat kondisinya menguntungkan sebelum kembali ke dormansi.
Dedi Junaedi
Kawasan Gurun Utama
Rank Desert Area (kmΒ²) Area (miΒ²)
1 Antarctic Desert (Antarctica)
14,200,000 5,500,000
2 Arctic Desert (Arctic)
13,900,000 5,400,000
3 Sahara Desert (Africa)
9,100,000 3,500,000
4 Arabian Desert (Middle East)
2,600,000 1,000,000
5 Gobi Desert (Asia)
1,300,000 500,000
6 Patagonian Desert (South America) 670,000 260,000
7 Great Victoria Desert (Australia)
647,000 250,000
8 Kalahari Desert (Africa)
570,000 220,000
9 Great Basin Desert (North America)
490,000 190,000
10 Syrian Desert (Middle East)
490,000 190,000






















