Bogor, Gontornews –Semangat kompetisi yang sehat dan pengembangan potensi generasi muda kembali bergema melalui gelaran Fathan Mubina Talent Festival ke-13 (FTF13). Kegiatan tahunan ini menjadi salah satu ajang bergengsi bagi pelajar dari berbagai jenjang pendidikan untuk menampilkan bakat terbaik mereka, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Sebanyak 32 lembaga pendidikan dari wilayah Jabodetabek dan Sukabumi turut ambil bagian dalam festival ini. Para peserta berasal dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA sederajat, menjadikan FTF13 sebagai ruang temu lintas jenjang yang sarat semangat kolaborasi dan kompetisi.
Penanggung jawab kegiatan, Ujang Samsudin, S.Pd., menegaskan bahwa FTF13 bukan sekadar perlombaan, tetapi bagian dari ikhtiar besar dalam membangun karakter generasi muda yang unggul dan berdaya saing.
“FTF13 ini kami rancang sebagai wadah untuk mengembangkan minat dan bakat kawula muda, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Kami ingin menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, kreatif, dan siap berkontribusi di masyarakat,” ujar Ujang dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026)
Misi Besar di Balik Festival
FTF13 membawa sejumlah misi penting yang menjadi landasan penyelenggaraannya. Di antaranya mengembangkan potensi pelajar, menciptakan generasi muda yang berkualitas, serta menyediakan ruang ekspresi yang luas bagi kreativitas tanpa batas.
Selain itu, festival ini juga bertujuan menumbuhkan sikap sportif dalam berkompetisi serta membentuk mental generasi muda agar siap berperan aktif di tengah masyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi ruh dari setiap cabang perlombaan yang digelar.
“Kompetisi ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana peserta belajar untuk berproses, menghargai usaha, dan menjunjung tinggi sportivitas,” tambah Ujang.
Ragam Lomba: Dari Religi hingga Seni Modern
FTF13 menghadirkan beragam kategori lomba yang dirancang untuk menjangkau berbagai minat dan bakat peserta. Pada tingkat SD/MI sederajat, lomba yang dipertandingkan meliputi mewarnai kaligrafi, Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), panahan, pidato, dan solo singer.
Untuk tingkat SMP/MTs sederajat, peserta dapat mengikuti lomba Da’i Muda dan duet storytelling, yang mengasah kemampuan komunikasi serta pemahaman keagamaan. Sementara itu, pada tingkat SMA/MA sederajat, terdapat lomba Da’i Muda dan debat umum yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan argumentasi yang kuat.
Tidak hanya itu, terdapat pula kategori gabungan untuk SMP/MTs hingga SMA/MA sederajat, seperti board art, duet singer, kaligrafi, MHQ, dan Ratoh Jaroe—tarian tradisional khas Aceh yang sarat nilai budaya.
Keberagaman lomba ini mencerminkan pendekatan holistik dalam pendidikan, di mana aspek intelektual, spiritual, seni, dan budaya mendapat ruang yang seimbang.
Antusiasme Peserta dari 32 Lembaga Pendidikan
Partisipasi 32 lembaga pendidikan dalam FTF13 menunjukkan tingginya antusiasme terhadap ajang ini. Para peserta tidak hanya datang untuk berkompetisi, tetapi juga untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan pertemanan.
Bagi banyak sekolah dan pesantren, FTF menjadi ajang strategis untuk mengukur capaian pembinaan siswa sekaligus memperkenalkan potensi lembaga kepada publik. Atmosfer kompetisi yang hangat namun tetap kompetitif menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta.
“FTF ini sudah menjadi agenda yang dinanti setiap tahun. Selain lomba, ada nilai silaturahmi yang sangat kuat di dalamnya,” ungkap salah satu pembimbing peserta.
Apresiasi dan Penghargaan
Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi peserta, panitia menyediakan berbagai hadiah menarik. Para pemenang berkesempatan mendapatkan uang pembinaan dengan total mencapai puluhan juta rupiah, serta piala dan sertifikat penghargaan.
Namun lebih dari itu, penghargaan sejati yang diharapkan yaitu pengalaman berharga yang diperoleh selama mengikuti kompetisi—mulai dari proses persiapan, tampil di hadapan juri, hingga berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah.
Membangun Generasi Berkarakter
FTF13 tidak hanya berorientasi pada hasil akhir berupa juara, tetapi lebih jauh pada proses pembentukan karakter. Nilai-nilai seperti disiplin, kerja keras, percaya diri, dan kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting yang ditanamkan melalui kegiatan ini.
Dalam konteks pendidikan masa kini, pendekatan seperti ini menjadi sangat relevan. Generasi muda tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga harus memiliki soft skills yang mumpuni untuk menghadapi tantangan zaman.
“Melalui FTF, kami ingin menanamkan bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang harus dikembangkan. Tugas kita memberikan ruang dan kesempatan agar potensi itu bisa tumbuh,” jelas Ujang.
Harapan ke Depan
Ke depan, penyelenggara berharap Fathan Mubina Talent Festival dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak peserta dari berbagai daerah. Selain itu, festival ini diharapkan mampu menjadi jembatan silaturahmi antar sekolah dan pondok pesantren.
“Semoga FTF tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi para siswa untuk terus berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik,” tutup Ujang.
Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan sportivitas, FTF13 menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang unggul dan berkontribusi nyata bagi bangsa dan masyarakat.[]























