Idlib, Gontornews — Setidaknya 80 ribu warga Suriah bergera di dekat perbatasan Turki dalam lima hari terakhir setelah serangan hebat oleh rezim Bashar al-Assad, Rusia dan kelompok-kelompok yang didukung Iran di provinsi Suriah utara ini, kata Direktur Kelompok Koordinasi Respons Suriah Mohammad Halaj, Jumat (20/12).
Halaj mengatakan sedikitnya 180 ribu warga sipil telah mengungsi sejak awal November di Idlib karena serangan itu.
Dia mengatakan Rusia dan rezim menyerang rumah sakit, sekolah, masjid dan rumah untuk memaksa warga sipil keluar dari kota dan menjauhkan mereka dari rumahnya.
Halaj mengantongi data tentang orang-orang terlantar di Idlib yang diumumkan sebagai zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Pada bulan September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Sejak itu, lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas dalam serangan oleh rezim dan pasukan Rusia di zona de-eskalasi.
Menurut pemerintah setempat, Idlib adalah rumah bagi 2,4 juta dan 1,3 juta orang terlantar. Jika agresi oleh rezim dan sekutunya berlanjut, Turki dan Eropa menghadapi risiko masuknya pengungsi lain.
Lebih dari 1 juta warga Suriah telah bergerak di dekat perbatasan Turki.
Sejak meletusnya perang saudara berdarah di Suriah pada tahun 2011, Turki telah menampung hampir 4 juta warga Suriah yang melarikan diri. Ini menjadikan Turki sebagai negara yang paling banyak menampung pengungsi di dunia. [RM]





















