Harare, Gontornews–Berbagai upaya dilakukan pemerintah Zimbabwe untuk menyelamatkan perekonomian negara dari krisis finansia. Diantaranya dengan melakukan evaluasi pengeluaran negara dimana 96 persen uang Negara digunakan untuk membayar abdi Negara atau pegawai negeri sipil. Tak mau negara bangkrut, pemerintah memecat sekitar 25 ribu PNS.
Dilansir dari laman Aljazeera (14/9), Menteri Keuangan Zimbabwe mengatakan negaranya sedang berjuang untuk menyelamatkan perekonomian negara salah satunya dengan merumahkan 25.000 pegawai negeri sipil dalam upaya untuk mengekang pengeluaran pemerintah. Pemerintah juga tak akan memberikan bonus kepada pegawai yang masih bekerja, dalam dua tahun ke depan.
“Perekonomian menghadapi tantangan berat, dengan tantangan utama antisipasi besarnya APBN 2016,” ujar Menteri Keuangan Zimbabwe Patrick Chinamasa.
Chinamasa menambahkan, pemerintah tengah mengejar defisit anggaran yang mencapai USD 623 juta dalam enam bulan pertama tahun 2016. Dikhawatikan deficit tersebut melebar sampai USD 1 miliar pada akhir tahun.
Zimbabwe memang sedang mengalami kemorosotan selama beberapa waktu ini. Inflasi negeri ini terus meningkat hingga 2,2 juta persen yang menjadi inflasi tertinggi di dunia. Akibat inflasi yang tinggi tersebut,negara yang memiliki ibukota Harare ini mengakui penggunaan beberapa mata uang seperti Dolar Amerika Serikat, Euro, Pula Botswana, Pound sterling, Renminbi, Rupee India, Rand Afrika Selatan.
Bank sentral Zimbabwe sempat mengeluarkan pecahan 100 triliun dolar yang menjadi uang dengan nominal terbesar didunia. Kebijakan ini kemudian digantikan dengan dolar versi ke-4 di mana setiap 100 triliun dolar uang lama digantikan menjadi $1 uang baru.
Krisis finansial yang mengurung negara berbatasan dengan Afrika Selatan di sebelah selatan, Botswana di barat, Zambia di utara dan Mozambik di timur, ini menyebabkan ketegangan politik dan protes anti-pemerintah.
Para demonstran menuduh pemerintah salah urus dan korupsi. Beberapa diantaranya juga menuntut supaya Presiden Robert Mugabe mundur dari jabatannya. [Ahmad Muhajir]





















