Roma, Gontornews — Kepala Lembaga Kesehatan Nasional ISS, Silvio Brusaferro, mengatakan bahwa angka kematian akibat COVID-19 di Italia yang terjadi saat ini bukanlah angka yang sebenarnya. Brusaferro menambahkan ada sejumlah pasien yang belum dites positif COVID-19.
Dalam keterangan persnya, Brusaferro mengatakan bahwa data resmi kematian COVID-19 di Italia tidak mencakup warga yang meninggal di rumah. Data tersebut juga tidak mencakup kematian di panti jompo atau mereka yang telah terjangkit COVID-19 tapi belum diuji. Hal ini disebabkan sebagian tes COVID-19 di Italia dilakukan di rumah sakit.
Hingga Senin (30/3), Italia mengonfirmasi 11.591 kematian dengan 101.739 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi. Wilayah Bergamo menjadi wilayah paling terdampak COVID-19. Walikota Bergamo pun mengatakan bahwa perhitungan kematian resmi yang belum terkonfirmasi bisa mencapai empat kali lipat dari yang sudah dipublikasikan.
Hal ini disebabkan banyak warga Italia yang tertular COVID-19 di rumah dan meninggal selama perawatan berlangsung.
Sebelumnya, ilmuwan Italia Andrea Crisanti mengkritik strategi penanganan COVID-19 yang dilakukan pemerintah. Alih-alih memisahkan pasein dari keluarga, Pemerintah justru meminta pasien dengan gejala ringan untuk tinggal di rumah dan mengisolasi diri. Crisanti pun memprediksi bahwa penularan COVID-19 justru terjadi sesama anggota keluarga di rumah.
“Menurut kami, infeksi penularan (COVID-19) terjadi di rumah,” kata Andrea Crisanti sebagaimana dilansir Reuters.
Crisanti yang bertugas menanganani COVID-19 di Veneto pun berharap Pemerintah mengubah strategi dan lebih agresif dalam melakukan pemeriksaan.
Crisanti pun berharap pemerintah melakukan pendekatan serupa yang dilakukan Veneto untuk mengurangi angka kematian.
“Kita harus lebih agresif dalam mengidentifikasi orang yang sakit di rumah.”
“Kita perlu mendatangi rumah mereka, menguji mereka, anggota keluarga mereka, teman mereka dan tetangga mereka. Semua orang yang dinyatakan positif harus dibawa (ke pusat penangann wabah). Jika mereka cukup sehat, mereka akan dialihkan ke pusat akomodasi di luar rumah mereka,” tutup pakar mikrobiologi dari Universitas Padua, Italia. [Mohamad Deny Irawan]



















