Yerevan, Gontornews — Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashninyan, memperpanjang status darurat COVID-19 hingga 10 hari ke depan. Upaya ini dilakukan demi membatasi penyebaran COVID-19 di Armenia.
Sejauh ini, Armenia mengonfirmasi 532 kasus COVID-19 dengan 3 kematian. Angka ini adalah yang tertinggi di wilayah Pegunungan Kaukasus Selatan.
“Kami melakukan ini untuk menjaga situasi agar tetap terkendali,” kata Pashinyan sebagaimana dilansir Reuters.
Sebelumnya, Armenia mendeklarasikan keadaan darurat selama 30 hari sejak 15 Maret. Dalam situasi ini, negara menutup sebagian besar aktivitas bisnis serta membatasi pergerakan warga secara bebas. Pemerintah hanya memperbolehkan toko kebutuhan pokok, apotek dan bank untuk tetap beroperasi.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Armenia, Tigran Avinyan mengatakan pemerintah dapat memperketat pembatasan lebih lanjut dalam 10 hari mendatang.
“Kita harus menjadi lebih efektif dan melibatkan badan-badan lainnya selain polisi untuk mengendalikan proses dengan lebih efektif,” kata Avinyan.
Sementara itu, negara tetangga Armenia, Azerbaijan telah mengonfirmasi 297 kasus COVID-19 dengan lima kematian hingga Selasa (31/3). Azerbaijan pun terpaksa menutup sistem metro di Baku pada Selasa (31/3) hingga 20 April mendatang.
Azerbaijan juga menutup penerbangan internasional dan kereta api dari dan menuju Rusia. Azerbaijan hanya satu titik pemeriksaan di wilayah perbatasan Armenia dan Azerbaijan yang terus beroperasi dalam kapasitas yang terbatas.
Sementara negara Kaukasus lainnya, Georgia, melaporkan 110 kasus COVID-19 pada Selasa (31/3) dan belum mengonfirmasi satu pun kematian. [Mohamad Deny Irawan]


















