Jenewa, Gontornews — Badan PBB untuk urusan pengungsi, UNHCR, merilis laporan yang menyatakan setengah anak pengungsi di dunia tidak bersekolah sejak pandemi Covid-19. Kondisi ini, lanjut United Nations High Comission for Refugee (UNHCR), berpotensi merampas jutaan prospek masa depan dunia.
“Setelah semua yang meraka alami, kami tidak dapat membayangkan bagaimana masa depan mereka dirampas dengan pelarangan untuk mendapatkan akses pendidikan hari ini,” kata Direktur Jenderal UNHCR, Filippo Grandi, dalam sebuah pernyataan yang dilansir Hurriyyet Daily.
Secara spesifik, laporan tersebut mengonfirmasi sekitar 1,8 juta anak atau 48 persen anak-anak pengungsi tidak bersekolah. Sebanyak 77 persen anak-anak pengungsi terdaftar di sekolah namun hanya 31 persen saja yang bersekolah.
Laporan UNHCR juga menjelaskan bahwa upaya pengendalian virus di setiap negara justru merugikan anak-anak pengungsi. Anak-anak pengungsi mengalami kesulitan kembali ke sekolah karena sebagian besar keluarga pengungsi tidak mampu membayar sekolah, seragam dan buku.
Di lain sisi, mereka cenderung tidak memiliki akses ke teknologi untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Anak-anak juga diminta bekerja oleh keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka.
Pada akhir laporan tersebut, UNHCR menggarisbawahi prediksi mengerikan dengan dampak buruk generasi masa depan.
“Prediksi mengerikan ini akan berdampak pada generasi mendatang,” pungkas UNHCR. [Mohamad Deny Irawan]



















