Jerusalem, Gontornews — Pandemi Covid-19 membuat Kota Tua Jerusalem bak kota mati. Minimnya aktivitas masyarakat akibat pembatasan pergerakan selama pandemi menyebabkan sektor pariwisata di kota tiga agama tersebut runtuh.
Tembok bangunan serta lorong-lorong bergaya masa lampau semakin membuat kota Jerusalem seperti halnya kota hantu. Penjualan suvenir di Jerusalem pun berhenti seketika saat perjalanan religi kota suci bagi penganut agama Yahudi, Islam dan Kristen ditiadakan akibat pandemi. Walhasil, banyak penduduk Jerusalem yang semakin menderita karena kesulitan ekonomi akibat pandemi yang melanda dunia itu.
“Pada tahun-tahun sebelumnya, kota ini dipenuhi turis saat Natal. Tapi sekarang, sekitar jam 5 sore, lokasi tersebut menjadi kosong,” kata seorang teknisi komputer asal Jerusalem, Hisham Qweder, kepada Reuters.
Sektor pariwisata lain yang terdampak adalah bar dan restoran. Sekalipun masih buka hingga malam hari, pengunjung serta pelanggan enggan untuk mendatangi lokasi tersebut.
Sebelum pandemi melanda, sektor pariwisata Jerusalem menjadi sektor yang berkembang paling pesat. Khususnya di Kota Tua Jerusalem yang berada dalam penguasaan Israel sejak perang tahun 1967 silam.
Khaled Salfiti, pemilik toko suvenir di Jerusalem berusia 70 tahun mengenang bagaimana Kota Tua dulu semarak dan hidup sebelum serangkaian penguncian akibat pandemi diberlakukan.
“Virus korona melumpuhkan segalanya,” tutupnya mengeluh. [Mohamad Deny Irawan]






















