Beirut, Gontornews — Perdana Menteri Lebanon sementara, Hassan Diab, Selasa (6/7/2021), meminta masyarakat internasional untuk membantu Lebanon dari ledakan sosial. Diab memperingatkan bahwa Lebanon berada di ambang bencana yang dampaknya bisa bergema hingga luar negeri.
Diab pun tidak segan menyebut Lebanon membutuhkan uluran tangan serta bantuan dari negara-negara sahabat untuk menyelamatkan negara dari kesulitan.
Sejak Diab mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri, tidak lama setelah ledakan pelabuhan Beirut 4 Agustus 2020, struktur dan fungsi pemerintahan Lebanon tidak berjalan. Pada Oktober, Presiden Lebanon, Michel Aoun, menunjuk Saad Hariri untuk menjadi Perdana Menteri untuk ketiga kalinya.
Presiden Aoun meminta Hariri untuk membentuk pemerintahan baru setelah berhasil mengamankan 65 suara anggota parlemen Lebanon. Tetapi, pembentukan kabinet tersebut urung terlaksana menyusul terjadinya konflik internal antara Presiden Aoun dengan Hariri.
Konstitusi Lebanon sendiri membutuhkan persetujuan dua tokoh tersebut untuk menjalankan fungsi pemerintahan.
โMasyarakat Lebanon telah bersabar dan menanggung beban penantian panjang ini. Tetapi, kesabaran mereka habis saat penderitaan mereka justru semakin meningkat,โ ungkap Diab sebagaimana dilansir Arab News.
Kini, 60 persen masyarakat Lebanon berada di bawah garis kemiskinan. Mata uang Lebanon mengalami inflasi hingga 91 persen. Akibatnya, sebagian besar komoditas pokok masyarakat urung terpenuhi. Kerawanan pangan merajalela sementara kurangnya pasokan bahan bakar melanda rumah sakit, toko roti hingga rumah tangga.
Perusahaan listrik Lebanon, lectricite du Liban, telah memperingatkan pemerintah bahwa mereka terpaksa menghentikan pasokan listrik karena dua dari empat pembangkit listrik nasional tidak mendapatkan pasokan bahan bakar yang cukup.
Selain itu, kelangkaan bahan bakar juga membuat perusahaan telekomunikasi milik negara, Ogero, menggunakan generator agar tetap tersambung dengan dunia luar.
Sejumlah sumber menyebut Hariri akan mundur dari jabatan Perdana Menterinya jika konflik internal ini tidak dapat diselesaikan. โJika dia mundur, itu akan dilakukan dengan cara yang tidak merusak popularitasnya mengingat pemilihan parlemen akan berlangsung dalam beberapa waktu mendatang,โ kata sumber tersebut.
Rencananya, Lebanon akan menyelenggarakan pemilihan parlemen pada Mei 2022 mendatang. [Mohamad Deny Irawan]





















