Nama Kalender Hijriyah tak sepopuler Kalender Masehi. Sadarkah kita, bahwa rutinitas ibadah umat Islam sangat bergantung pada penanggalan Hijriyah. Namun sayangnya banyak umat Islam yang tak menyadari itu, bahkan tidak tahu saat ditanya soal penanggalan Hijriyah ini.
Sebut saja Salsabila, remaja putri yang nyantri di salah satu pesantren di Jawa Barat ini tidak hafal nama-nama bulan dalam Kalender Hijriyah. Dia hanya hafal nama-nama bulan yang jamak terpampang di kalender yang beredar saat ini. Itu Kalender Masehi.
Ia hanya hafal bulan Ramadhan, Syawal dan Idul Adha. Tiga nama bulan yang memang umat Islam menjalaninya dengan penuh suka cita. Sementara Muharram, Dzulqaβdah, Shafar dan lain sebagainya kurang menjadi perhatiannya. βSaya kenal nama bulan kalender Islam itu karena pas datang Ramadhan atau hari besar Islam yang biasanya umat Islam menjalaninya seperti lebaran,β ungkapnya.
Ironis, memang. Umat Islam yang sebenarnya memiliki kalender sendiri justru kurang mengenalnya. Umat Islam justru malah mengenal Kalender Masehi yang sarat dengan nama-nama Tuhan mereka.
Dunia Islam sudah memiliki kalender sendiri dalam menentukan tanggal, bulan, dan tahun. Kalender Hijriyah adalah sistem penanggalan bagi umat Islam yang di dalamnya terdapat makna, sejarah, dan ibadah khusus pada masing- masing bulannya agar umat Islam selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Tidak seperti penanggalan Masehi yang berpedoman pada matahari, sistem penanggalan Hijriyah ditentukan berdasarkan peredaran bulan. Sehingga kalender ini disebut juga sebagai kalender Qamariah (bulan).
Umat Islam sebagai ummah wahidah perlu memiliki kalender Islam tunggal dan terpadu yang menyatukan sistem pengorganisasian waktu di seluruh dunia. Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir pernah menyatakan bahwa sosialisasi kalender Islam international, merupakan salah satu agenda penting internasionalisasi Muhammadiyah.
Muhammadiyah pernah mengutus Prof Syamsul Anwar menjadi salah satu pembicara dalam International Hijri Calender Unity Congress di Turki pada 28-30 Mei 2016. Dalam forum itu, Muhammadiyah menawarkan tentang kalender Islam dengan kriteria satu tanggal untuk satu hari di seluruh dunia.
Meskipun menemui banyak tantangan, Haedar menegaskan bahwa gagasan ini perlu diperjuangkan secara perlahan. βKetika seabad yang lalu, Kiai Dahlan betapa susah memahamkan tentang arah kiblat yang tepat menurut yang beliau pahami, baru sekarang dipahami oleh semua dan bahkan dikodifikasi oleh Kemenag,β ulasnya.
Kalender unifikatif ini merupakan salah satu agenda peradaban di antara banyak pekerjaan rumah lainnya yang dimiliki umat Islam. βMembangun peradaban Islam, ini sebagai hutang peradaban yang basisnya ilmu pengetahuan yang kontekstual sesuai perubahan zaman,β ungkap Haedar.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Dr Syamsul Anwar MA mengatakan, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengusulkan lima prinsip Kalender Hijriyah global tunggal, yaitu:
Pertama, penerimaan hisab. Menurut Syamsul, peralihan dari rukyat ke hisab dapat dijelaskan dengan teori perubahan hukum dalam ushul fikih. Kedua, transfer imkanu rukyat. βJika sudah imkanu rukyat di salah satu tempat di muka bumi, maka keesokan harinya masuk bulan baru di seluruh dunia, imkanu rukyat itu kemudian ditransfer ke seluruh dunia,β ulasnya.
Ketiga, kesatuan matlak. Seluruh muka bumi dipandang sebagai satu matlak sebagai konsekuensi dari transfer imkanu rukyat. Keempat, keselarasan hari dan tanggal di seluruh dunia. Berlaku satu hari dalam satu pekan yang ditandai dengan satu tanggal yang sama.
Kelima, penerimaan garis tunggal internasional. Kalender Hijriah Global Tunggal berdasarkan kepada penerimaan Garis Tanggal Internasional (GTI) yang berlaku sekarang.
βMasyarakat dunia telah menyepakati peletakan garis batas tanggal tersebut pada 180 derajat Bujur Timur. Umat Islam secara de facto juga telah menerima peletakan garis dimaksud pada bujur tersebut. Buktinya umat Islam melakukan shalat Jumat dengan menghitung hari Jumat dari garis tersebut,β jelas Syamsul Anwar.
Sementara itu, Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) KH Sirril Wafa menyatakan, penyatuan Kalender Hijriyah sangat penting demi persatuan umat Islam. Ini sudah cukup sebagai dasar untuk merampungkan Kalender Hijriyah Indonesia (KHI).
“Ini satu hal yang sangat penting. Semua ormas, semua elemen masyarakat memiliki cita-cita yang sama. Cuma masalahnya, bagaimana meramu dari berbagai macam metode untuk bersinergi dan ini memerlukan pembahasan yang detail di tingkat masing-masing ormas,” jelas Kiai Sirril dikutip Republika, Senin (21/6).
Kiai Sirril menyampaikan perlunya persatuan merupakan fitrah, terlebih dalam cakupan satu negara. Dia mengakui ini terlihat mudah untuk dikatakan, tetapi tidak sepele dalam menyelesaikannya. Untuk itu, diperlukan satu rumusan yang disepakati bersama. “Ini tidak gampang, tetapi tetap diusahakan, jadi perlu waktu, nanti juga akan ketemu, saya yakin,” ucapnya.
NU sendiri menerima metode hisab atau rukyat. Hanya saja, selama ini persepsi yang berkembang, yaitu NU hanya menggunakan metode rukyat. Karena itu, ia menekankan NU menggunakan keduanya, baik hisab maupun rukyat.
“NU menggunakan hisab dan rukyat. Kan hitungannya selalu ada, ada kalendernya. Hanya, untuk masalah ibadah seperti bulan Ramadhan, akhir Ramadhan atau Syawal, dan Idul Adha, itu selalu menggunakan metode rukyat karena mengamalkan hadis Nabi,” ujarnya.
Saat ini, LF PBNU masih melakukan pembahasan untuk mereaktualisasi metode rukyat yang mendekati hisab. “Skenario ini yang nanti dibicarakan, jadi masih belum final. Masih digodok di internal lembaga,” lanjutnya.
Menurut Kiai Sirril, KHI bisa rampung pada 2024 mendatang jika sudah ditemukan satu konsep yang disepakati bersama yang disertai sosialisasi secara menyeluruh. Sedangkan saat ini masih belum ada kesepakatan sehingga pemecahannya tergantung pertemuan berikutnya antara ormas-ormas Islam yang difasilitasi Kementerian Agama.
“Ini berlarut-larut karena belum ada formulasi untuk menemukan titik temu di antara metode yang beragam itu, karena ini ranah ijtihadiyah. Jadi, harus dicari metode yang memungkinkan untuk bisa saling berdampingan. Konsep yang ada di pinggir dibawa ke tengah sehingga ketemu di satu titik,” imbuhnya.
Upaya Unifikasi
Sejumlah ahli hisab dan rukyat bertemu untuk mematangkan konsep unifikasi Kalender Hijriyah. Pertemuan yang berlangsung di Jakarta, 17-18 Juni 2021, ini difasilitasi Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama.
Sejumlah pakar yang hadir berasal dari perwakilan Mahkamah Agung RI, Pengadilan Tinggi Agama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Washliyah, dan Persis. Hadir juga para ahli hisab rukyat perorangan, astronom, dan akademisi dari bebagai perguruan tinggi.
βBerkumpulnya para ahli di sini, merupakan langkah strategis Kementerian Agama untuk menghasilkan tips dan strategi terciptanya unifikasi kalender Hijriah di Indonesia,β ujar Direktur Urais Binsyar Moh. Agus Salim, di Jakarta, Kamis (17/6).
Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin, mengatakan, upaya unifikasi Kalender Islam saat ini memasuki tahapan pembahasan naskah akademik. ” Untuk mencapai tahapan itu dibutuhkan komitmen kolektif, keyakinan yang sangat tinggi. Bukan hanya kebutuhan kompetensi akademik, tapi juga komitmen sosial, politik dan lain-lain,” katanya.
Menurut Kamaruddin, upaya penyatuan Kalender Hijriyah tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun, berbekal komitmen kolektif dan dukungan dari banyak pihak, dia optimis tujuan ini akan tercapai. []






















