Washington, Gontornews — Badan ilmiah kelautan dan atmosfer Amerika Serikat, National Oceanic atmospheric Administration (NOAA), menyebut bulan Juli sebagai bulan terpanas secara global. NOAA menjelaskan suhu bulan Juli 2021 meningkat 0,93 derajat Celcius di atas rata-rata suhu abad ke-20 sebesar 15,7 derajat Celcius.
“Biasanya, Juli merupakan bulan terpanas dunia dalam satu tahun. Tetapi, Juli 2021 tercata sebagai bulan terpanas yang pernah tercatat,” ungkap administrator NOAA, Rick Spinrad, sebagaimana dilansir Channel News Asia dari AFP.
“Rekor baru ini menambah jalur gangguan dari apa yang telah (kelompok) perubahan iklim dunia sepakati,” ungkap Spinrad dalam sebuah pernyataan mengutip data dari National Centers for Environmental Information (NCEI).
NOAA menjelaskan jika pihaknya menghitung gabungan suhu permukaan laut dan darat pada periode Juli yang mencapai 0,93 derajat Celcius. Angka ini sekaligus menjadikan Juli 2021 sebagai bulan terpanas dalam 142 tahun terakhir.
Meski demikian, lembaga iklim Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service, mencatat Juli 2021 sebagai Juli terpanas ketiga secara global.
Pakar iklim dari Breaktrough Insitute, Zake Hausfather, mengatakan bukan hal yang aneh melihat dua lembaga berbeda dalam pemaparan data. Bagi Hausfather, peningkatan suhu bumi tejadi karena emisi Co2 maupun gas rumah kaca lainnya.
“Catatan NOAA memiliki cakupan yang lebih terbatas di Kutub Utara daripada catatan suhu global lainnya yang cenderung menunjukkan Juli 2021 sebagai rekor terpanas kedua (versi NASA) atau ketiga (versi Copernicus),” kata Hausfather.
“Peristiwa ekstrem yang kita lihat di seluruh dunia, mulai dari gelombang panas yang memecahan rekor, ekstremnya curah hujan hingga amukan kebakaran hutan, semuanya telah diprediksi dan dipahami dengan baik sebagai dampak dunia yang lebih hangat,” jelasnya.
“Mereka akan terus menjadi lebih parah hingga dunia mengurangi emisi CO2 dan gas rumah kaca lainnya hingga nol bersih,” tegasnya.
NOAA menambahkan Asia menjadi wilayah terpanas yang pernah ada melampaui kondisi serupa pada tahun 2010. Sementara Eropa telah mencatatkan Juli terpanas keduanya setelah tahun 2018. [Mohamad Deny Irawan]




















