Yogyakarta, Gontornews — Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menghimbau semua pihak untuk melihat sejarah dengan prespektif yang jernih dan jujur. Secara khusus, Haedar mengingatkan masyarakat tentang sejarah pembentukan Hizbul Wathan, Askar Perang Sabil (APS) dan Markas Ulama Askar Perang Sabil (MUAPS).
“Baik warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas, sering terlupakan peran Muhammadiyah sejak membentuk Hizbul Wathan tahun 1918 yang orang hanya melihat sebatas kepanduan semata. Padahal, itu gerakan cinta tanah air dan membangun karakter pergerakan sehingga dari sana lahir Soedirman dan tokoh pergerakan lainnya,” ungkap Haedar Nashir saat membuka acara Pengajian Umum PP Muhammadiyah secara virtual, Jum’at (12/11/2021).
Selain pembentukan Hizbul Wathan, Muhammadiyah, lanjut Haedar, juga berkontribusi dalam pembentukan satuan pejuang Askar Perang Sabil (APS) dan Markas Ulama Askar Perang Sabil (MUAPS) dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada masa agresi militer Belanda tahun 1945, APS yang dipimpin oleh Ki Bagus Hadikusumo menjadi pasukan semi-militer dengan tujuan membantu pemerintah Indonesia di sejumlah titik pertempuran.
“Peran Askar Perang Sabil di Yogyakarta dan kawasan Jawa Tengah bagian Selatan itu satu mata rantai dengan perang gerilya dengan komandan utamanya Ki Bagus Hadikusumo,” ujarnya.
“Orang Muhammadiyah sendiri sering tidak tahu. Karena itu, saya sampaikan kepada pemerintah untuk lebih hati-hati dalam menetapkan Hari Santri karena santri itu memiliki banyak kategori. Tapi kalau orientasi santri hanya kepada kelompok tertentu, tentu saja berbeda,” ucap Haedar.
“Kita perlu belajar sejarah secara jujur, belajar dengan cerdas. Belajar sejarah secara lebih komprehensif agar kita tidak gampang mengklaim tentang sejarahnya sendiri,” tutup Haedar. [Mohamad Deny Irawan]


















