Depok, Gontornews — Al-Ustadz Prof H Abdul Somad Lc MA PhD dalam sebuah acara Al-Qosbah Zoom Akbar (17/1) lalu menyampaikan bahwa dirinya sangat mengharapkan agar para penghafal al-Qur’an (ahli al-Qur’an) mau ‘keluar’ dan ikut berkontribusi dalam dunia dakwah.
“Bagi penghafal al-Qur’an, kamu harus bilang kamu hafal al-Qur’an,” tekan sang guru asal Silo Lama, Asahan, Sumatera Utara itu. Artinya, para penghafal al-Qur’an harus berani memperkenalkan gelarnya sebagai seorang hafidz atau hafidzah. Sebab jika mereka malu untuk itu, maka ahlu zina juga ahlu maksiat lainnya akan maju dan tampil berbicara di masyarakat.
“Dengan mengatakan apa yang telah dihafalkannya, maka jangan malu menjadi pakar al-Qur’an,” pesan UAS.
Ia pun mengajak para penghafal al-Qur’an agar tidak berdiam di dalam rumah saja. Namun mau mengamalkan dan berbagi ilmu al-Qur’an yang telah dikuasai terlebih dengan memanfaatkan jejaring sosial yang ada.
Di tengah perhatian ratusan peserta, UAS lantas berkata, “Persatuan penghafal al-Qur’an, ahli qiroat, dan lainnya, musti bangga. Adapun masalah hati dijaga dengan istighfar, sholat, dan dzikir.”
Kemudian ustadz yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan doktoral di Universitas Islam Omdurman, Sudan itu lantas menerangkan bahwa ilmu itu adalah cahaya dan ilmu tidak diberikan kepada pelaku maksiat. “Dan maksiat menggangu hafalan al-Qur’an,” tambahnya.
Kepada Gontornews.com UAS juga mengingatkan bahwa barang siapa yang jauh dari al-Qur’an, maka akan Allah SWT ikatkan dia dengan setan dan dia akan berteman dengan setan. Setan sifatnya bersembunyi ketika kita membaca al-Qur’an, dan ketika kita selesai membacanya, maka ia akan keluar lagi untuk mengganggu kita.
Rahmat Allah SWT pun berhenti ketika kita jauh dari al-Qur’an. Kita meminta rahmat dan ia akan turun kepada ahlu al-Qur’an. Maka, lanjut Ustadz Somad, negeri ini perlu di-Qur’ankan, diruqyah, agar setannya semua keluar. Dibutuhkan sinergi dari semua elemen untuk dapat berperan serta mewujudkan Indonesia yang Qur’aniy.
Pesan sang guru untuk jamaah, “Teruslah mencari sarana-sarana agar bisa istiqomah dengan al-Qur’an.” Kita juga bisa mengikuti sekolah tahfiz al-Qur’an.
Kemudian pesan untuk al-Qosbah, sebagai salah satu komunitas pecinta al-Qur’an, sebaiknya juga dapat memfasilitasi umat dengan membuat pesantren zoom online yang menghadirkan para penghafal al-Qur’an, majelis pagi, petang, siang, dan ada rapor, ada ijazahnya. “Karena orang semakin banyak dan kita fasilitasi dengan fasilitas modern,” pungkas ustadz yang pernah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir tersebut. [Edithya Miranti]





















