Depok, Gontornews — Ayah dan Bunda, anak pemarah itu sejatinya sangat perlu untuk ditolong. Bila tidak, karakter pemarahnya akan menguat dan bisa menjadi bencana di masa depan.
Sebelum menyerah dan meminta bantuan psikolog, Kak Eka Wardhana selaku Psikolog dan Mentor Funrenting ikut membeberkan beberapa langkah terapi anak pemarah dari rumah, berikut ulasannya:
Pertama, ajarkan anak membedakan antara apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan. Contohnya dengan mengatakan, “Tidak apa-apa marah sebentar, tapi jangan memukul ya.” Dengan demikian anak akan berusaha untuk mengontrol emosinya dengan tidak menyakiti diri atau orang lain di sekitarnya.
Kedua, memberi contoh dan keteladanan. Bila orangtua mencontohkan cara yang baik dalam menyalurkan kemarahan, anak akan menirunya. Misalnya dengan berzikir, berwudhu, meninggalkan orang yang membuat marah, dan lainnya.
Ketiga, membuat kesepakatan dan menerapkan undang-undang marah. Diskusi dua arah antara orangtua dan anak sangatlah penting dilakukan, terutama agar terbaca keinginan dan saling memahami satu sama lain. Karenanya, perlu diberlakukan suatu peraturan apabila kemarahan itu terjadi, misalnya tidak membanting pintu, tidak memukul, dan lainnya.
Keempat, ajarkan alternatif marah, misalnya dengan mengucapkan kalimat thayyibah. Hal itu juga bisa membantu mencegah anak berkata kasar dan terbiasa berkata perkataan yang baik dan bernilai pahala.
Namun, juga beri tahu anak agar kalau ia marah pada seseorang, lebih baik pergi atau lakukan waktu “time out” dengan berpikir sebentar, sembari meredam kemarahan, dan mencegah dari hal-hal yang berkaitan dengan hawa nafsu setan.
Kelima, bila perlu buatlah sangsi dan hadiah. Puji atau beri hadiah kecil kepada ana, apabila ia bisa menghindari kemarahan, dan beri sangsi jika ia marah. Salah satu bentuk sangsinya misalnya, pengurangan waktu main gadget.
“Ayah dan Bunda, yang namanya terapi tentu harus dilakukan istiqamah dan terukur,” tambah Kak Eka. Semua tindakan di atas juga, lanjutnya, perlu dilakukan secara terus-menerus, penuh rasa sayang, dan disertai dengan komunikasi yang terbuka. <Edithya Miranti>



















