Bandung, Gontornews – Hari Raya Idul Fitri sudah beberapa hari berlalu. Namun momentum untuk bersilaturahmi meski terus dijaga. Sebab, menjaga silaturahmi mendatangkan ridha Allah SWT. Dan mengantarkan pelakunya ke dalam surga dengan selamat. Sebaliknya, Allah akan melaknat mereka yang memutuskan tali silaturahmi.
Dalam pengajian Ahad (8/5) pagi ba’da Shubuh, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd, menjelaskan makna menyambung tali yang terputus melalui silaturahmi.
Menurutnya, menyambung silaturahmi akan mendatangkan banyak manfaat. Di antaranya, pertama, mereka yang menyambungkan silaturahmi akan masuk surga dengan selamat. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Berikanlah makanan, sebarkanlah salam, sambunglah tali silaturahmi dan lakukan shalat malam ketika orang-orang tidur, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR Ibnu Hibban).
Kedua, mereka yang menyambungkan silaturahmi akan diluaskan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Dari sahabat Anas bin Malik RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang senang diluaskan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya, hendaklah ia menjaga hubungan baik dengan kerabatnya’.” (HR Bukhari dan Muslim).
Menurutnya, silaturahmi bukanlah sekedar hubungan nasab. Namun lebih jauh dari itu, hubungan sesama Muslim merupakan bagian dari silaturahmi, sehingga Allah mengibaratkan umat Islam bagaikan satu bangunan. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Orang Mukmin dengan orang Mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR Muslim, No. 4684).
Sementara itu Allah SWT memerintahkan kita untuk menyambung silaturahmi sebagaimana firman-Nya dalam Qur’an Surat Ar Ra’du Ayat 21, yang artinya: Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.”
Menurut Prof Sofyan, silaturahmi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk dan cara. “Silaturahmi merupakan kebaikan yang dilakukan terhadap keluarga, kerabat, saudara, dan juga sahabat. Silaturahmi dapat dilakukan melalui harta, tenaga, pikiran, waktu, atau semuanya sekaligus,” papar Guru Besar kelahiran Cianjur, 20 April 1956, itu.
Selain itu, silaturahmi dapat diwujudkan dengan bantuan melalui harta seperti memberikan bantuan tenaga untuk evakuasi saat bencana, pemenuhan kebutuhan kerabat, melakukan kunjungan, korespondensi, atau sekadar menyapa bertukar kabar satu sama lain. “Silaturahmi dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan tuntutan kondisi di lapangan,” terangnya pada pengajian yang dilakukan secara hybrid dari Masjid Al-Falaq, Gegerkalong Tengah, Kota Bandung.
Mengutip pendapat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam kitabnya Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Khatib, Prof Sofyan menyebutkan setidaknya ada 10 keutamaan silaturahmi. Pertama, silaturahmi bisa mendatangkan ridha Allah SWT. Kedua, silaturahmi bisa membuat kerabat yang dikunjungi merasa bahagia. Ketiga, silaturahmi bisa membuat malaikat bahagia karena malaikat menyukai orang-orang yang menjaga silaturahmi.
Keempat, silaturahmi bisa menciptakan kesan baik atau positif dari orang yang beriman terhadap mereka yang melakukan silaturahmi. Kelima, silaturahmi bisa membuat hati dan pikiran iblis resah karena iblis menginginkan perpecahan di antara umat Islam.
Keenam, silaturahmi bisa memberi keberkahan umur bagi para pelakunya. Ketujuh, silaturahmi bisa membuat rezeki bertambah berkah. Kedelapan, silaturahmi bisa membuat bahagia orangtua, nenek dan kakek yang sudah wafat karena mereka senang mengetahui keturunannya menjaga silaturahmi.
Kesembilan, silaturahmi bisa menambah kewibawaan dan kehormatan para pelakunya, yaitu orang yang menjaga silaturahmi. Kesepuluh, silaturahmi bisa menambah pahala setelah orang yang menjaga silaturahmi wafat karena para kerabat menyebutkan kebaikannya saat masih hidup
“Silaturahmi dapat dilakukan dengan harta, pemenuhan kebutuhan, kunjungan, korespondensi, saling bertukar salam melalui surat-menyurat, dan sejenisnya,” ujarnya pada pengajian yang dilakukan secara hybrid melalui aplikasi Zoom.
Lebih dari 250 jamaah menghadiri kajian itu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan daerah lain.
Lebih jauh dosen Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu menyebutkan, silaturahmi yang kita lakukan dapat menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, sahabat, dan teman. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Dari sahabat Anas bin Malik RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang senang diluaskan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya, hendaklah ia menjaga hubungan baik dengan kerabatnya’.” (HR Bukhari dan Muslim).
Nabi SAW juga bersabda, yang artinya: “Silaturahmi bukanlah yang saling membalas kebaikan. Tetapi seorang yang berusaha menjalin hubungan baik meski lingkungan terdekat merusak hubungan persaudaraan dengan dirinya.” (HR Bukhari).
Lalu apa ganjaran (hukuman) bagi perusak atau pemutus tali silaturahmi? Prof Sofyan menyebut tiga ganjaran bagi perusak silaturahmi. Pertama, para perusak silaturahmi tidak akan masuk surga. Sebab, menyambung silaturahmi merupakan salah satu kewajiban dan memutus silaturahmi termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Tidak akan masuk surga (bersama orang-orang yang lebih awal masuk surga) orang yang memutus silaturahim.’’ (HR Bukhari dan Muslim).
Kedua, para perusak silaturahmi akan mendapatkan laknat dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Qur’an Surat Muhammad [47] Ayat 22-23, yang artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”
Ketiga, hukuman para perusak silaturahmi akan disegerakan di dunia sebelum di akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allah siapkan baginya di akhirat daripada baghyu (kezaliman dan berbuat buruk kepada orang lain) dan memutuskan kerabat. (HR Bukhari).
“Karena itulah kita mesti menjaga silaturahmi,” papar Prof Sofyan dalam pengajian bertema “Kajian Surat Muhammad Ayat 22-23: Makna Menyambung Tali yang Terputus Melalui Silaturahmi”.
Menurut dosen Pendidikan Bahasa Arab UPI itu, ayat-ayat ini mengandung nilai-nilai pendidikan. Pertama, mendidik kita menjadi orang yang taat kepada perintah Allah SWT. Kedua, mendidik kita menjadi insan yang berbuat perdamaian di antara manusia dan perbaikan di muka bumi. Ketiga, mendidik kita menjadi insan yang senantiasa menyambungkan silaturahmi dan menjaga kekeluargaan. Keempat, mendidik kita agar senantiasa memperbaiki diri menjadi insan yang berakhlak karimah. []





















