وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS al-Anbiya: 107)
Pengantar
Ada yang menarik ketika diksi rahmatan lil alamin disematkan kepada kata Islam, yang kemudian terbentuk ungkapan “Islam rahmatan lil alamin”. Pertama, tidak ada teks yang menunjukkan bahwa Islam, sebagai sebuah agama, adalah rahmatan lil alamin.
Kedua, teks atau ayat yang secara jelas menyebutkan diksi rahmatan lil alamin itu disematkan untuk misi kerasulan nabi Muhamamad SAW, bukan ajaran atau agama yang dibawa dalam misinya itu.
Misi diutusnya Nabi Muhammad sebagai rasulullah; utusan Allah memang disebutkan beberapa kali di dalam Al Qur’an. Namun hampir semuanya bermuara pada misi membawa berita gembira bahwa bagi mereka yang beriman akan mendapatkan kebaikan dan keselamatan dunia akhirat, mereka yang beriman akan mendapatkan surga, mereka yang taat dan beriman akan mendapatkan pahala dan surga. Dan membawa peringatan bahwa mereka yang menentang dan tidak beriman akan mendapatkan balasan di dunia dan akhirat, mereka yang mendustakan dan mengingkari akan dimasukkan ke dalam neraka.
Bertepatan dengan bulan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW (Rabiul Awwal) sudah sepantasnya renungan kembali mengenai keimanan dan ketaatan atas seruan Rasulullah SAW dilakukan oleh siapa pun dari umatnya. Sebagai upaya muhasabah.
Kelahiran dan Isyarat Kerasulan
Sebagai nabi dan utusan terakhir Allah kepada umat manusia kelahiran dan kehadiran nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa besar yang ditunggu-tunggu. Hal itu karena berita kelahiran tersebut sudah termaktub dalam kitab suci terdahulu, baik Taurat maupun Injil. Maka tidak aneh jika sejak masa kelahirannya -bahkan di masa kehamilan ibunda Aminah- banyak peristiwa menarik dan kejadian luar biasa yang mengiringi.
Di antara peristiwa itu adalah mimpi yang terjadi atas diri ibunda Rasulullah SAW, Aminah. Dalam sebuah mimpinya beliau melihat adanya cahaya memancar dari diri beliau yang menerangi seantero wilayah Syam. Dan ternyata mimpi itu akhirnya terjadi pada saat melahirkan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana disaksikan oleh Ummu Utsman bin ‘Ash dan Ummu Abdurrahman bin Auf.
Dalam sebuah kesaksian lain Fatimah binti Abdullah menyebutkan; “Saya tidak melihat di sekitar rumah tempat kelahiran Rasulullah SAW kecuali keberadaan cahaya yang memancar … terang!”
Yang sangat menarik peristiwa runtuhnya simbol-simbol kemusyrikan yang ada pada masa itu. Mulai dari robohnya tiang-tiang istana raja Kisra Romawi, meredupnya (ada yang menceritakan padamnya) api suci kaum Majusi dan Zoroaster di Persia, mengeringnya air danau Sawa yang disucikan, sampai robohnya sejumlah patung dan berhala yang ada di sekitar Ka’bah. Ini semua, sebagaimana disimpulkan oleh para ulama, mengisyaratkan bahwa pemujaan dan penghambaan kepada selain Allah salah. Kelahiran Nabi Muhammad merupakan misi terakhir kerasulan para utusan Allah. Dan, ajaran tauhid merupakan hakikat dari rahmat dari Allah SWT.
Kerahmatan dalam Kerasulan Nabi Muhammad SAW
Tidak kurang dari 12 ayat dalam Al-Qur’an telah menyebutkan hakikat misi kerasulan Nabi Muhammad SAW. Hampir semuanya menegaskan bahwa sesuai dengan basyariyah (kemanusiaan) beliau, misi kerasulannya sebagai pembawa ‘berita gembira’ (atas pahala keimanan dan ketaatan kepada Rasulullah), dan pemberi ‘peringatan’ (atas balasan dan hukuman dari keingkaran kemaksiatan kepada Rasulullah SAW). Tugasmu hanya menyampaikan; … fainnama alaika al balagh.
Dalam sejumlah ayat, Allah SWT menegaskan; ma ala al rasuli illa al balagh; kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan. Hanya ada 1 ayat yang secara jelas dan tegas mengisyaratkan bahwa misi kerasulan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam.
Rahmat secara sederhana dapat diartikan sebagai karunia atau anugerah. Yaitu pemberian yang berharga dari yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah. Oleh karena itu, tepat sekali jika kemudian kerasulan Nabi Muhammad SAW ditegaskan sebagai rahmat dari Allah kepada seluruh alam semesta; jin, malaikat, manusia, dan alam.
Para mufassir menjelaskan makna rahmat dalam konteks kerasulan Nabi Muhammad SAW dengan penjelasan yang berbeda-beda, tidak sama.
Meskipun cenderung serupa. Sebab hampir semua mufassir memaknai kata rahmat dengan arti yang mengandung sikap aktif dan atau sifat dinamis. Tidak sebaliknya; pasif, dan pengertian yang cenderung statis.
Dalam Tafsir Al Muyassar, sejumlah mufassir sepakat bahwa kerasulan Nabi Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia. Maka barangsiapa beriman dan mengikuti ajarannya maka dia akan selamat dan bahagia.
Dan barangsiapa tidak mau beriman maka dia akan rugi dan menyesal. Menurut Imam Al Baghawy bagi mereka yang beriman maka dia akan mendapat kasih sayang Allah (berupa apa pun) di dunia dan akhirat. Adapun bagi mereka yang tidak (mau) beriman maka kerahmatan yang terkandung dalam kerasulan Nabi Muhammad SAW berupa penundaan adzab dan deformasi atas mereka, serta tidak diberantasnya mereka secara serta merta.
Sementara itu dalam kitab al Mukhtashar fi al Tafsir dijelaskan bahwa kerahmatan dari kerasulan Nabi Muhammad SAW merupakan kepedulian tingkat tinggi beliau kepada umatnya agar mendapatkan hidayah (petunjuk) dari Allah, dan keselamatan mereka dari adzab-Nya.
Yang jelas, sebagaimana ditegaskan oleh Sayyed Tantawi dalam kitabnya al Tafsir al Wasit, bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW dengan membawa ajaran agama Islam yang sempurna itu agar menjadi rahmat (sebagai karunia; anugerah) bagi alam semesta: jin dan manusia. Yaitu bahwa dengan mengikuti (baca; beriman dan taat kepada) Rasulullah SAW; mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya niscaya akan bahagia di dunia dan akhirat. Sedangkan apabila mengingkari dan mendustakan maka sejatinya dia akan kehilangan kesempatan menikmati anugerah dan rahmat tersebut.
Ibaratnya, kata Tantawi seraya mengutip ungkapan Zamakhsyari, Allah SWT telah memancarkan air dari sumbernya untuk kepentingan umat manusia. Maka mereka yang mau mengambil bagian untuk mengairi Sawah dan kebunnya, memberi minum binatang piaraannya, dan memenuhi kebutuhannya dia akan beruntung.
Sedangkan mereka yang enggan mengambil bagian maka dia akan rugi dan menyesal. Demikian juga halnya dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Sejatinya ia rahmat; karunia dari Allah SQT. Namun kerahmatannya tidak dapat dinikmati dengan sempurna kecuali oleh mereka yang menyambut dan menerima seruannya. Apalagi bagi mereka yang menolak dan berpaling, maka dia akan kehilangan kesempatan menikmati rahmat itu.
Penutup
Kesalahan yang terjadi dalam pemakaian diksi rahmatan lil alamin sejatinya lebih karena kesalahan setting pemikiran dalam penafsiran. Yaitu mendahulukan pemahaman kontekstual sebelum mencermati (baca: memahami) teks. Sehingga misi kerasulan atau keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan dan Nabi Allah terakhir, yang sejatinya itu rahmat yang dimaksud, justru tidak dipahami secara proporsional. Akibatnya, Islam yang sejatinya agama yang memang harus menjadi keyakinan dan jalan hidup dianggap sebagai rahmat; karunia.
Dari pemaparan singkat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kerahmatan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, selain terletak pada sikap penerimaan umat terhadap seruan dan dakwahnya, juga terdapat pada sikap Rasulullah SAW yang sangat peduli kepada kondisi umatnya. Beliau sangat khawatir jika umatnya tidak mendapat hidayah (petunjuk) dari Allah, dan kemudian mendapatkan adzab.
Di samping itu kerahmatan tersebut juga terletak pada kasih sayang Allah yang tidak segera mengadzab mereka yang tidak beriman, dan tidak serta merta memberantas mereka. Wallahu a’lam. []





















