Istanbul, Gontornews — Peneliti dari Universitas Duzce Turki menjelaskan bahwa suhu yang bertahan di atas norma musiman dapat menyebabkan penurunan populasi lebah. Pasalnya, suhu yang di atas norma musiman menciptakan lingkungan bagi virus dan bakteri yang membahayakan lebah.
“Jika suhu udara mengikuti jalurnya saat ini, itu akan menciptkan lingkungan untuk virus dan bakteri yang akan membahaykan lebah dan mungkin mengalami kerugian yang cepat,” kata Dr Meral Kekecoglu, Kepala Pusat Penelitian, Pengembangan dan Aplikasi Peternakan Lebah di Universitas Duzce di Turki.
“Kami saat ini mengalami suhu udara mencapai 15-16 derajat celcius. Terbukti secara ilmiah bahwa ketika suhu mencapai tingkat ini, lebah berusaha meninggalkan sarang dan mengumpulkan serbuk sari,” sambungnya kepada Anadolu.
Ia pun memperingatkan bahwa jika kondisi musim dingin kembali normal bahwa ini akan mengalami kehilangan lebah yang luar biasa. Kekecoglu melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka mengamati perilaku lebah pembawa serbuk sari sebagai makanan induk. Akibatnya, lebah mulai bertelur dengan ilusi kedatangan musim semi.
“Hal ini yang secara biologis tidak kita inginkan sama sekali,” jelasnya.
Untuk itu, Kekecoglu menyinggung tindakan pencegahan darurat yang dilakukan oleh peternak lebah. “Menurut apa yang kami dengar, beberapa peternak lebah menempatkan koloni di tempat penyimpanan dingin,”
“Tidak mungkin bagi mereka yang melakukan peternakan lebah skala besar menemukan gudang yang sangat besar,” ucapnya.
Kekecoglu pun mengungkapkan kekhawatiran besar terhadap dampak dari perubahan iklim bagi peternak lebah. Ia menambahkan bahwa perubahan iklim membuat lebah rentan terkena beberapa penyakit karena bakteri dan virus dapat bertahan dalam kondisi suhu tertentu. [Mohamad Deny Irawan]






















