قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan’.” (QS Al-An’am: 164)
Sebab turunnya ayat ini yaitu ketika orang-orang kafir berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Kembalilah kamu wahai Muhammad kepada agama kami, sembahlah tuhan-tuhan kami, tinggalkanlah apa yang ada padamu. Kami akan menjamin untukmu semua pengikut yang kamu harapkan di dunia dan akhiratmu.” Lalu, turunlah ayat tersebut. Ini pertanyaan yang menunjukkan celaan.
قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu’.”
Interpretasi para mufasir
Pertama, dalam Tafsir Al-Munir dijelaskan bahwa maksud dari kalimat وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَا menunjukkan bahwa seseorang tidak ditindak kecuali kemaksiatan yang dilakukan, kesalahan yang diperbuat.
Sedangkan firman Allah SWT وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ menunjukkan penetapan prinsip tanggung jawab pribadi. Ini merupakan salah satu kemuliaan agama Islam yang agung. Ayat ini ekuivalen dengan ayat-ayat lain di antaranya dengan surat Ath-Thur ayat 21.
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Ath-Thur: 21)
Dalam tafsir Ibnu Katsir, QS Ath-Thur ayat 21 ini dijelaskan sebagai berikut:
“Artinya, Kami susulkan kepada mereka anak cucu mereka untuk menempati kedudukan yang tinggi di surga (bersama mereka), sekalipun anak cucu mereka tidak ikut beramal seperti mereka, tetapi hanya dalam pokok keimanan saja.
Yakni Kami tidak mengurangi mereka yang terhormat lagi berkedudukan tinggi itu dari amal mereka barang sedikit pun, karena Kami menyamakan mereka dengan anak cucu mereka yang kedudukannya jauh berada di bawah mereka. Tetapi Allah sengaja mengangkat anak cucu mereka ke dalam kedudukan orang tua-orang tua mereka, karena berkah dari amal perbuatan orang tua-orang tua mereka, sebagai kemurahan dan karunia dari Allah SWT.”
Kedua, dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an dijelaskan bahwa QS Al-An’am ayat 164 menyebutkan bahwa masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri dan akan mendapat balasan dari Allah.
Ketiga, menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, setiap orang yang melakukan kezaliman atau dosa lainnya itu akan ditanggungnya sendiri kelak di hari kiamat. Semua orang sudah sibuk dengan dirinya, masing-masing mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ
“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka yang melaksanakan shalat. Dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali.” (QS Fatir: 18)
Menurut tafsir Ibnu Katsir, di dalam ayat ini terkandung perintah berbuat ikhlas dan bertawakal kepada Allah, seperti juga yang terkandung di dalam ayat sebelumnya, yaitu ikhlas dalam beribadah kepada Allah, yakni hanya untuk Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya. Makna seperti ini banyak didapati di dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah yang mengandung petunjuk bagi hamba-hamba-Nya agar mereka mengatakan kepada-Nya:
Pertama, Allah yang berhak disembah dan hanya kepada-Nya meminta pertolongan.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5)
Kedua, sembahlah Allah dan bertawakallah. فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ
“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS Hud: 123)
Ketiga, beriman dan bertawakal kepada Allah. قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا
“Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nyalah kami bertawakal’.” (QS Al-Mulk: 29)
Keempat, menjadikan Allah sebagai pelindung. رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا
“(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS Al-Muzzammil: 9)
Nilai-nilai pendidikan
Surat Al-An’am ayat 164 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan bagi manusia. Di antaranya, pertama, mendidik kita untuk senantiasa menjaga tauhid dan iman yang ada dalam diri serta bertanggung jawab atas amal perbuatannya.
Kedua, senantiasa mengajarkan kita agar berbuat baik kepada siapa pun dan menghindari perbuatan dosa dan maksiat.
Ketiga, mendidik kita agar senantiasa tawakal dan ikhlas karena Allah serta meminta ampunan atas segala dosa yang diperbuat.
Keempat, mengajarkan kita untuk taat kepada perintah Allah dan menjauhi perselisihan di antara makhluk-Nya.
Makna tanggung jawab
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “tanggung jawab” adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Setiap individu mempunyai tanggung jawab, karena tanggung jawab bersifat kodrati yaitu menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karakter seseorang tecermin dalam sikap tanggung jawabnya, dan mereka akan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Allah SWT berfirman: كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ
“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.” (QS Al-Muddatstsir: 38)
Semua perbuatan kita tercatat dengan jelas. Allah SWT berfirman:
اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ ࣖ
“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).” (QS Yasin: 12)
Ucapan penyebab kesesatan serta ucapan mengakibatkan dosa dipikul secara sempurna. Allah SWT berfirman:
لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ ࣖ
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu.” (QS An-Nahl: 25)
Lalu bagaimana wajah orang-orang yang berdosa? Allah SWT berfirman:
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَنَآ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَطَعْنَا الرَّسُوْلَا۠
“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS Al-Ahzab: 66)
Demikian Allah berfirman: وَلَنْ يَّنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ اِذْ ظَّلَمْتُمْ اَنَّكُمْ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُوْنَ
“Dan (harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari itu karena kamu telah menzalimi (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu pantas bersama-sama dalam azab itu. (QS Az-Zukhruf: 39)
Bagaimana dosa bagi yang memelopori kemaksiatan? Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW menyebutkan nilai dosa akibat menjadi pelopor kemaksiatan:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء
“Siapa yang memelopori satu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim No. 2398).
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR Ahmad No. 9398, Muslim No. 6980)
Karena itu apabila kita melihat kemungkaran dan dosa, maka kita harus meluruskannya.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Siapa yang melihat kemungkaran hendaklah meluruskannya dengan tangannya, maka jika tidak sanggup (hendaklah meluruskan) dengan lisannya, jika tidak sanggup (hendaklah dia meluruskan) dengan hatinya dan ini iman yang paling lemah.” (HR Muslim 49)
Kisah teladan
Umumnya manusia tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Meskipun demikian, tidak benar pula bila orang menjadi putus asa karena berbagai dosa yang terlanjur dilakukannya. Harapan dapat melebur dosa atau mendapatkan ampunan harus terus dijaga. Berkaitan hal ini salah seorang murid Syekh Ibrahim al-Bajuri, yaitu Syekh Muhammad bin Abdullah al-Jardani (wafat 1307 H) dari Mesir merilis riwayat sebagai berikut:
Suatu ketika ada sahabat mendatangi Nabi SAW untuk mengadukan dosa besar yang terlanjur dilakukannya. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah melakukan dosa yang sangat besar, lalu apa yang dapat meleburnya dariku?” “Apakah dosamu lebih besar daripada langit?” tanya Nabi SAW.
“Lebih besar dosaku,” jawab sahabat tersebut. “Apakah lebih besar daripada Kursi … Apakah lebih besar daripada Arsy …” selidik Nabi SAW. “Lebih besar dosaku,” jawab sahabat itu sebagaimana jawaban pertama. “Kalau dengan ampunan Allah?” sergah Nabi SAW. “Ya lebih besar ampunan Allah,” jawabnya kali ini.
Setelah sahabat tersebut menyadari bahwa seberapa besar pun dosanya, ampunan Allah tetap lebih besar, maka Nabi SAW memberitahukan kepadanya berbagai amal yang dapat melebur dosanya itu. Nabi SAW bersabda, “Jihadlah fi sabilillah.”
Namun di luar dugaan sahabat itu justru menolaknya karena merasa tidak sanggup. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku termasuk orang yang paling penakut, andaikan tidak ada keluarga yang menemaniku keluar rumah di malam hari, niscaya aku tidak akan keluar sama sekali.”
“Kalau begitu kamu puasa,” gumam Nabi SAW. “Demi Allah, wahai Rasulullah, aku sama sekali tidak bisa kenyang dengan makan roti (sama sekali tidak mampu berpuasa),” elak sahabat tersebut. “Kalau begitu kamu shalat malam,” Nabi SAW memberi alternatif amalan.
“Wahai Rasulullah, andaikan keluargaku tidak membangunkanku untuk shalat Shubuh, aku pun tidak bisa bangun untuk melakukannya (untuk shalat Shubuh saja sangat berat, apalagi shalat malam),” jawab sahabat itu penuh kejujuran. Bukannya marah, mendengar jawaban yang penuh kejujuran ini Nabi SAW justru tersenyum hingga kelihatan giginya. Dengan penuh kasih sayang, Nabi SAW pun memberi alternatif amalan yang sangat ringan untuk menjadi pelebur dosa yang telah dilakukan sahabatnya. Nabi SAW akhirnya bersabda, “Kalau begitu, bacalah selalu dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat di timbangan amal dan sangat disukai Allah Sang Maha Pengasih, yaitu: ‘Subhânallâhi wa bi hamdihi, subhanallâhil ‘adhîm’.” (HR Bukhari 7/168 dan Muslim 4/2072). (Muhammad bin Abdullah al-Jardani, al-Jawâhir al-Lu’lû’iyyah fi Syarhil Arba’în an-Nawawiyyah, [Manshurah, Maktabah al-Îman], halaman 164-165).
Walhasil dari kisah ini dapat diambil pelajaran, bahwa sebesar apa pun dosa yang terlanjur dilakukan, baik dosa konvensional maupun dosa digital, manusia tidak boleh putus asa dari ampunan Allah yang pasti lebih besar daripada dosanya. Selain itu, kisah di atas juga menunjukkan begitu besarnya kasih sayang Nabi SAW terhadap manusia. Bahkan terhadap pendosa pun, Nabi SAW tetap menampakkan senyuman lepas penuh kasihnya.
Cara mendapat ampunan Allah dari segala dosa
Jika kita sudah terlanjur berbuat dosa, apa yang perlu dilakukan? Pertama, bertobat dan memohon ampunan Allah SWT. Allah berfirman:
اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah: 271)
Karena itu segeralah mengingat Allah dan memohon ampun. Allah berfirman:
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. (QS Ali Imran: 135)
Kedua, janganlah berputus asa dari rahmat Allah dan tidak melampaui batas. Allah berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53)
Ketiga, memperbanyak dzikir yang mampu menghapus dosa.
Ada juga amalan lisan yang tidak terikat waktu tapi bisa menghapus dosa. Rasulullah bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مَائَةَ مَرَّةٍ، حَطَّتْ خَطَايَاهُ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
”Barangsiapa mengucapkan Subhânallâhi wabihamdihi seratus kali dalam sehari akan dihapus kesalahan-kesalahannya meskipun seperti buih di lautan.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Keempat, melakukan perbuatan baik yang bisa dilakukan seperti shalat. Allah berfirman:
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذَّاكِرِيْنَ
“Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS Hud: 114)
Jalan memperbaiki diri dari segala dosa dan mengangkat derajat
Rasulullah bersabda:
عن أَبي هريرةَ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أَلا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الخَطَايَا، ويَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قالَ: إسْبَاغُ الوُضُوْءِ عَلَى المَكَارِهِ، وكَثْرَةُ الخُطَا إِلَى المَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ
Artinya: “Maukah kalian aku beritahukan amalan yang dengannya akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Para sahabat menjawab: ‘Mau wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: Menyempurnakan wudhu di saat yang sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, itulah ribath (perjuangan).” (HR Muslim dari Abu Hurairah RA)
اَللّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوْبِيْ، وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ عَمَلِيْ
“Ya Allah, ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosaku, rahmat-Mu lebih kuharapkan daripada amalan-amalanku.” (HR Al-Imam Al-Hakim). []




















